Mataelangindonesia.com-Di tengah duka yang belum usai akibat banjir rob yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, terselip luka yang lebih dalam—luka yang bukan hanya disebabkan oleh air yang merendam rumah, tetapi juga oleh ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil. Bantuan yang seharusnya menjadi penopang hidup sementara, justru berubah menjadi sumber konflik dan kekecewaan.

Uang jadup (jatah hidup) yang seyogianya menjadi harapan bagi masyarakat terdampak, kini seakan menjadi bara api yang membakar hubungan antara warga dan aparat desa. Rakyat yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan, malah harus dihadapkan pada kenyataan pahit bantuan yang tak merata, data yang simpang siur, dan proses yang tidak transparan.

Bayangkan, di saat perut lapar dan rumah masih berbau lumpur, mereka harus mendengar kabar bahwa ada yang lebih berhak mendapatkan bantuan—bukan karena lebih membutuhkan, tetapi karena lebih dekat dengan kekuasaan. Di saat anak-anak menangis kelaparan, para orang tua hanya bisa terdiam, menahan amarah yang tak tahu harus disalurkan ke mana.

Lebih menyakitkan lagi, aparat desa yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi dan memperjuangkan warganya, justru ikut terseret dalam pusaran masalah ini. Entah karena tekanan, ketidaktahuan, atau bahkan kepentingan tertentu, yang jelas kondisi ini membuat kepercayaan masyarakat semakin terkikis.
Apakah pantas rakyat dikorbankan hanya demi angka-angka dalam laporan? Apakah bantuan yang seharusnya menjadi bentuk kepedulian, justru berubah menjadi alat yang melukai hati masyarakat?

Hari ini, yang dibutuhkan bukan sekadar laporan administratif yang rapi di atas meja. Yang dibutuhkan adalah kehadiran nyata. Pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, harus turun langsung ke lapangan. Lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi masyarakat. Dengarkan suara mereka yang selama ini mungkin tidak pernah sampai ke ruang rapat.

Jangan hanya percaya pada data. Karena di balik angka, ada air mata. Di balik laporan, ada penderitaan yang nyata.
Rakyat tidak menuntut lebih. Mereka hanya ingin diperlakukan adil. Mereka hanya ingin bantuan itu sampai kepada yang benar-benar membutuhkan. Mereka hanya ingin didengar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya krisis kemanusiaan yang terjadi, tetapi juga krisis kepercayaan. Dan ketika kepercayaan rakyat hilang, maka yang runtuh bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga wibawa pemerintah itu sendiri.

Ini bukan sekadar persoalan uang jadup. Ini tentang kemanusiaan. Tentang keadilan. Tentang tanggung jawab moral.
Jangan tunggu sampai suara rakyat berubah menjadi jeritan yang lebih keras. Jangan tunggu sampai luka ini menjadi dendam yang sulit disembuhkan.

Penulis : Teuku Saifuddin Alba

Editor   : Teuku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *