Lhokseumawe,mataelangindonesia.com– Rintihan kecil seorang bocah bernama Rahmuni Ghita Hanania (8 tahun) kini menggugah hati banyak orang. Di usianya yang seharusnya penuh tawa dan canda, ia harus berjuang melawan penyakit ITP kanker yang melemahkan tubuh mungilnya. Sehari-hari, Ghita hanya bisa terbaring di ruang perawatan Rumah Sakit PT Arun Lhokseumawe, ditemani doa dan air mata keluarganya.

Sabtu sore (30/8/2025), secercah harapan datang. Yakesma dan BFLF LSM-ACUT hadir dengan hati penuh kepedulian melalui kegiatan Kunjungan Sosial. Tepat pukul 16.00 WIB, rombongan tiba di lokasi untuk menjenguk Ghita. Turut hadir Mulyani, S.Pd.I, Ketua Program Infaq Beras Berkah Yakesma Lhokseumawe, Asri, S.E, selaku tim penyalur infaq, serta Mutia Sari, S.T., M.S.M, Ketua BFLF LSM-ACUT.

Dalam kunjungan perdana itu, kedua lembaga menyerahkan uang santunan untuk meringankan beban keluarga Ghita. Bukan hanya materi, tetapi juga doa dan motivasi agar sang bocah kuat melawan sakitnya.

Mulyani dengan mata berkaca-kaca menyampaikan, “Anak sekecil Ghita tidak seharusnya diuji dengan penderitaan seberat ini. Semoga Allah memberi kesembuhan dan meringankan beban keluarga.”

Sementara itu, Mutia Sari menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya hadir untuk masyarakat kecil yang tengah berjuang. “Ghita adalah anak kita semua, penderitaannya adalah panggilan nurani kita. Mari sama-sama ulurkan tangan, karena seberapapun bantuan yang diberikan akan sangat berarti bagi keluarga ini,” ujarnya.

Kunjungan sederhana itu meninggalkan jejak haru di ruang perawatan. Senyum tipis Ghita saat menerima santunan menjadi pengingat bahwa di balik sakit yang ia derita, masih ada cahaya kasih dari orang-orang baik.

Kini, Ghita dan keluarganya masih membutuhkan uluran tangan dermawan. Kisah perjuangannya mengajarkan kita bahwa kepedulian bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata yang mampu memberi harapan di tengah duka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *