mediamataelangindonesia.com

Purwakarta – Kondisi memprihatinkan kembali terlihat pada infrastruktur jalan desa di wilayah Kampung Tegal Kelapa, RT 12 RW 04, Desa Citeko, Kecamatan Plered. Jalan desa sepanjang kurang lebih 1.000 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter yang menghubungkan Desa Citeko dengan Desa Rawasari itu dilaporkan telah mengalami kerusakan berat selama bertahun-tahun tanpa adanya perbaikan yang signifikan dari pihak terkait.

Jalan tersebut sejatinya bukan sekadar akses biasa. Selain menjadi penghubung utama antar dua desa, jalan ini juga berfungsi sebagai jalur alternatif yang cukup vital bagi masyarakat sekitar. Namun, kondisi jalan yang saat ini dipenuhi lubang, permukaan yang tidak rata, serta minimnya pengerasan membuat pengguna jalan harus ekstra hati-hati, bahkan kerap membahayakan keselamatan.

Berdasarkan pantauan warga, kerusakan jalan semakin parah ketika memasuki musim hujan. Air yang menggenang di sejumlah titik membuat lubang tidak terlihat jelas, sehingga seringkali pengendara sepeda motor terjebak dan terjatuh. Bahkan kendaraan roda empat pun kesulitan melintas di beberapa bagian yang mengalami kerusakan cukup dalam.

“Sudah lama sekali rusak, bukan hitungan bulan tapi bertahun-tahun. Kalau hujan, jalan ini seperti kubangan. Banyak yang jatuh, apalagi anak sekolah,” ujar salah satu warga setempat dengan nada prihatin.

Jalan tersebut memiliki peran yang sangat krusial dalam mendukung roda perekonomian masyarakat. Para petani di wilayah Citeko dan Rawasari sangat bergantung pada akses ini untuk mengangkut hasil pertanian mereka menuju pasar atau tempat penampungan. Selain itu, para pengrajin tanah liat yang menjadi salah satu mata pencaharian utama warga juga memanfaatkan jalan tersebut untuk distribusi hasil produksi mereka.

Kondisi jalan yang rusak tentu berdampak langsung terhadap efisiensi dan biaya distribusi. Warga mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk perawatan kendaraan akibat sering melewati jalan rusak. Tidak sedikit pula yang memilih memutar arah dengan jarak lebih jauh demi menghindari risiko.

Tak hanya sektor ekonomi, akses pendidikan juga ikut terdampak. Jalan tersebut merupakan jalur yang setiap hari dilalui oleh anak-anak sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah. Kondisi jalan yang licin dan berlubang membuat orang tua khawatir akan keselamatan anak-anak mereka.

“Kami sebagai orang tua tentu was-was. Anak-anak setiap hari lewat sini, sementara jalannya seperti ini. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap warga lainnya.
Saat dikonfirmasi, pihak Pemerintah Desa Citeko membenarkan kondisi jalan tersebut memang sudah lama mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan serius. Namun demikian, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam merealisasikan pembangunan.

Pemerintah desa menjelaskan bahwa saat ini Dana Desa yang diterima mengalami penurunan, sementara kebutuhan pembangunan di berbagai sektor terus meningkat. Hal ini membuat pemerintah desa harus melakukan skala prioritas dalam penggunaan anggaran.

“Bukan berarti jalan ini tidak masuk prioritas, tetapi memang ada kebutuhan lain yang lebih mendesak yang harus didahulukan. Kami harus menyesuaikan dengan kondisi anggaran yang ada,” jelas perwakilan pemerintah desa.
Lebih lanjut, disebutkan bahwa untuk melakukan perbaikan total jalan sepanjang 1 kilometer tersebut dibutuhkan anggaran yang cukup besar, yakni sekitar Rp2 miliar. Angka tersebut dinilai tidak memungkinkan untuk dipenuhi hanya dari Dana Desa.

Sebagai solusi alternatif, pemerintah desa berupaya mengajukan pembangunan jalan tersebut melalui jalur aspirasi anggota dewan di daerah pemilihan setempat. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang adanya bantuan anggaran dari pemerintah daerah maupun provinsi.

“Kami sudah berupaya mencari solusi, salah satunya melalui aspirasi dewan. Harapannya bisa segera ditindaklanjuti karena memang kebutuhan ini sudah sangat mendesak,” tambahnya.
Di sisi lain, warga berharap adanya perhatian lebih serius dari pemerintah daerah, baik tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk segera turun tangan melihat kondisi nyata di lapangan. Mereka menilai bahwa jalan tersebut memiliki fungsi strategis yang tidak hanya berdampak pada satu desa, tetapi juga antar wilayah.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan, dikhawatirkan kerusakan akan semakin parah dan berpotensi menghambat aktivitas masyarakat secara lebih luas, bahkan dapat menimbulkan risiko kecelakaan yang lebih tinggi.
“Harapan kami sederhana, jalan ini bisa segera diperbaiki. Karena ini akses utama kami untuk bekerja, sekolah, dan kehidupan sehari-hari,” tutup salah satu warga.

Dengan kondisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun, perbaikan jalan penghubung Desa Citeko dan Rawasari ini kini menjadi harapan besar masyarakat, sekaligus ujian bagi perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar infrastruktur di wilayah pedesaan.

Penulis : Aep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *