Oleh : Muhammad M. Piah (CM Cek Mad)
Jurnalis Mediamataelangindonesia.com

Pidie Jaya, 15 Juni 2026 tinggal beberapa hari lagi, Kita Pidie Jaya “Bangkit Bersyariat dan Pulih Bersama” dibawah Pemerintahan Bupati Sibral Malasyi dan Wakil Bupati Hasan Basri—yang masa pemerintahannya masih “seumur jagung”.

Tujuh Bulan Pasca Banjir Bandang: Angka di Atas Kertas, Derita di Tanah

Perlu diingat, 26 November 2025, banjir bandang meluluhlantakkan di Pidie Jaya. Air setinggi dua meter datang dalam hitungan menit. Tujuh bulan sudah berlalu. Namun fakta di lapangan: pembenahan masih berjalan lambat. Ratusan kepala keluarga masih bertahan di Huntara yang panasnya menyengat. Bantuan rehab-rekon (ringan, sedang, berat) baru terserap kurang dari 40 persen. Dari berbagai sumber menyebutkan, stimulan dan jaminan hidup (Jadup) bagi korban masih banyak yang belum dapat.

Sementara itu, gemuruh HUT Pidie Jaya ke 19 justru terdengar lebih keras dari suara pompa air yang menyedot genangan di persawahan.

Pemerintah daerah melalui Prokopim memang sudah menjadwalkan rangkaian kegiatan sejak 10 Juni lalu: lomba hafalan Juz Amma, dalail khairat, donor darah, hingga jalan sehat. Semua itu bagus. Tapi wajar jika sebagian masyarakat bertanya, “Mana bentuk ‘pulih bersama’ yang konkret bagi kami yang masih tidur di lantai papan?”

Tema Besar, Eksekusi yang Masih Pincang

Tema “Bangkit Bersyariat dan Pulih Bersama” sejatinya luar biasa. Syariat harus jadi panglima. Tapi syariat juga mengajarkan bahwa pemimpin adalah pelayan. Melayani dalam kondisi normal itu wajib, apalagi dalam kondisi darurat pascabencana.

Kita catat, Pemkab Pidie Jaya memang sudah mengalokasikan anggaran untuk normalisasi Sungai Krueng Meureudu dan perbaikan irigasi rusak. Jalan lintas kecamatan yang putus akibat banjir juga mulai diperbaiki. Namun, warga di Huntara belum merasakan dampaknya. Mereka butuh hunian tetap (Huntap) yang layak.

Saya sempat berbincang dengan seorang nenek di Huntara, beliau bilang dengan logat khas Pidie: “Kami ikut senang dengan HUT ke-19, tapi jangan lupa kami masih di sini, Pak Bupati. Kami ingin Pidie Jaya indah lagi, lebih dari sebelumnya. Tapi indahnya bukan hanya mobil hias di pawai nanti, indahnya itu kami punya rumah kembali.”

Harapan di Sela Usia 19 Tahun

Dalam momentum usia yang masih belia ini, ada tiga catatan kritis yang layak digarisbawahi:

Prioritas Pemulihan Harus Jelas – Jangan sampai pawai dan upacara menjadi konsumsi publik, sementara distribusi bantuan rehab-rekon berat macet. Percepat verifikasi data korban. Selesaikan Huntap sebelum musim hujan akhir tahun.
Normalisasi Sungai Bukan Proyek Seremonial – Irigasi dan sungai yang dangkal adalah biang rutin banjir. Pemerintah harus menunjukkan peta jalan yang terukur, lengkap dengan tenggat waktu dan penanggung jawab teknis.
Pemerintahan “Seumur Jagung” Harus Cepat Berbuah – Pak Sibral dan Pak Hasan Basri. Wajar disebut seumur jagung. Tapi jagung bisa panen dalam 3-4 bulan. Masyarakat tidak menunggu panen lambat. Mereka butuh gerakan cepat, bukan hanya jargon.
Penutup: Pidie Jaya yang Lebih Indah Bukan Mimpi

Saya optimis, Pidie Jaya akan indah lagi. Bahkan mungkin lebih indah dari sebelum banjir. Tapi keindahan itu tidak akan lahir dari pawai atau upacara tahunan semata. Ia lahir dari kerja nyata: membangun ulang rumah, menjamin hak korban, dan memastikan sungai tidak meluap lagi.

Selamat ulang tahun ke-19, Kabupaten Pidie Jaya. Mudah-mudahan di usiamu yang masih muda ini, kau segera bangkit sejati—bukan hanya dari lirik lagu, tapi dari sendi-sendi kehidupan warganya yang paling lemah.

Salam hormat dari pinggir Huntara.

Muhammad M. Piah (CM Cek Mad) adalah jurnalis Mediamataelangindonesia.com yang memantau isu kebencanaan dan otonomi daerah di Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *