Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi MA, S.Sos, ME (Nyak Syi), resmi memimpin KONI Kabupaten periode 2025-2029.
Oleh: Muhammad M. Piah (CM Cek Mad), Jurnalis
Hari bersejarah bagi dunia olahraga Pidie Jaya telah ditorehkan. Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi MA, S.Sos, ME (Nyak Syi), resmi memimpin KONI Kabupaten periode 2025-2029.
Pelantikan yang berlangsung megah dan dihadiri seluruh elemen penting daerah ini patut diapresiasi sebagai komitmen pemimpin dalam memajukan olahraga.
Namun, di balik kemegahan acara dan janji-janji manis, tersimpan pertanyaan besar: akankah kepemimpinan langsung bupati ini benar-benar menjadi titik balik kebangkitan olahraga di Pidie Jaya?
Realitas Pahit di Lapangan
Sebagai jurnalis yang mengikuti perkembangan olahraga lokal, saya menyaksikan sendiri betapa banyak cabang olahraga yang “tumbuh tapi tak berbuah”. Stadion sepakbola di Gampong Poroh yang megah hanya menjadi monumen bisu. Tak ada liga reguler, tak ada kompetisi yang berkesinambungan. Sepakbola – olahraga paling populer di masyarakat – hanya hidup saat ada Piala Kapolres.
Yang lebih memprihatinkan, even bergengsi seperti pertandingan 17 Agustus pun telah hilang dari bumi Pidie Jaya. Padahal, sebagai contoh dulu di Kecamatan Meureudu, tradisi TARKAM (Antar Kampung) melahirkan klub-klub legendaris seperti TVC, BADAK, MUDA SEBAYA, dan PERSEMA. Dari situlah lahir bibit-bibit unggul yang memperkuat METRO Meureudu, bahkan ada yang sampai ke PSAP Sigli, Persiraja, bahkan tim nasional.
Tantangan untuk Kepengurusan Baru
Kepemimpinan bupati sebagai ketua KONI seharusnya bukan sekadar jabatan simbolis. Ini adalah peluang emas untuk melakukan terobosan nyata. Beberapa hal yang perlu menjadi prioritas:
1. Revitalisasi Infrastruktur Stadion Poroh harus dihidupkan dengan liga reguler yang melibatkan klub-klub dari semua kecamatan. Fasilitas olahraga lain perlu diperhatikan secara merata.
2. Kompetisi Berjenjang KONI harus merancang kalender kompetisi yang berkelanjutan untuk semua cabang olahraga, dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.
3. Regenerasi Atlet Program pembinaan atlet muda harus menjadi fokus utama, bukan hanya mengejar prestasi instan untuk even-even tertentu.
4. Transparansi Management Pengurus harus terdiri dari orang-orang yang kompeten di bidang olahraga, bukan sekadar bagi-bagi memasang jabatan pada orang dekat yang tak mengerti olahraga.
Harapan untuk Perubahan
Pelantikan ini akan berarti jika mampu membangkitkan gelora olahraga yang nyata di tingkat akar rumput. Bupati Sibral Malasyi yang juga mantan atlet dan Ketua PERBAKIN memiliki modal kuat untuk memahami kebutuhan dunia olahraga.
Tema “Bersinergi Raih Prestasi Menuju Pidie Jaya Meusyuhu” harus diwujudkan dalam action plan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan. Target papan atas di PORA 2026 memang penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun ekosistem olahraga yang sehat dan berkelanjutan.
Semoga kepemimpinan kali ini tidak hanya mewujudkan “KONI yang meusyuhu” (bergengsi) secara administratif, tetapi benar-benar melahirkan generasi atlet yang membawa harum nama Pidie Jaya di kancah yang lebih tinggi.
Kita semua berharap, empat tahun ke depan, olahraga Pidie Jaya tidak hanya hidup di atas kertas dan acara seremonial, tetapi benar-benar bernafas dalam setiap sudut kota dan desa, melibatkan partisipasi aktif seluruh masyarakat.
(CM)
