
Lhokseumawe,mataelangindonesia.com – Dalam keseharian, nama Mutia Sari, ST., MSM dikenal bukan hanya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Kota Lhokseumawe, melainkan juga sebagai sosok pegiat sosial yang tanpa henti mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat. Perempuan kelahiran Lhokseumawe, 12 Mei 1981 ini menjadikan pengabdian kepada rakyat sebagai panggilan hati, bukan sekadar rutinitas.
Sejak remaja, Mutia Sari sudah menunjukkan bakat kepemimpinan dan kepedulian sosial yang kuat. Ia memulai kiprah organisasinya dari bangku sekolah dengan aktif di bidang kesenian OSIS tingkat MTsN, lalu melanjutkan sebagai pengurus bidang keagamaan OSIS di SLTA. Kepekaan sosial itu terus berkembang, hingga pada tahun 2000 ia dipercaya sebagai Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat BEM Politeknik Kota Lhokseumawe. Sejak saat itu, dirinya semakin mantap menapaki jalan pengabdian.

Tidak berhenti di sana, kiprah Mutia Sari semakin luas ketika ia aktif di berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Ia pernah menjadi anggota Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dari tahun 2008 hingga 2012. Keterlibatannya menunjukkan komitmen terhadap perlindungan kaum perempuan dan anak, yang sering menjadi kelompok rentan dalam kehidupan sosial.
Selain itu, Mutia juga terlibat di berbagai wadah kepemudaan dan kewirausahaan, seperti KNPI, IKAN, IWAPI, dan IPEMI. Melalui wadah-wadah tersebut, ia terus mendorong semangat kolaborasi, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kapasitas generasi muda maupun perempuan Aceh. Tidak hanya itu, jiwa kepeduliannya juga terwujud melalui keterlibatan di Komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3), sebuah gerakan sosial yang konsisten membantu masyarakat kurang mampu.
Kiprahnya makin terasa saat ia dipercaya sebagai Bendahara FKPRRI dan kemudian menjabat sebagai Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Lhokseumawe dan Aceh Utara. Di bawah kepemimpinannya, BFLF tumbuh menjadi wadah yang sangat berarti, khususnya dalam membantu pasien yang membutuhkan donor darah, dukungan medis, maupun bantuan sosial lainnya. Kehadiran BFLF di Aceh Utara dan Lhokseumawe tak lepas dari sentuhan tangan dingin Mutia Sari yang senantiasa menekankan semangat kerja ikhlas dan gotong royong.

Dalam kesehariannya, meski disibukkan dengan pekerjaan sebagai ASN, Mutia Sari tetap mampu membagi waktu untuk aktivitas sosial. Baginya, keberadaan manusia akan lebih bermakna ketika mampu memberi manfaat bagi orang lain. Falsafah hidup itulah yang membuat dirinya dihormati sebagai sosok pekerja sosial sejati, yang tidak pernah mengenal lelah demi kemanusiaan.
Pendidikan akademiknya pun mendukung kiprahnya. Dengan latar belakang S1 Teknik dan kemudian menamatkan S2 Ilmu Manajemen dan Bisnis, Mutia Sari memiliki kapasitas intelektual untuk mengelola organisasi dan jaringan sosial yang ia pimpin. Keseimbangan antara profesionalitas, kemampuan manajerial, dan ketulusan hati membuat dirinya tampil sebagai figur yang inspiratif.
Kini, di usia yang semakin matang, Mutia Sari tetap teguh melanjutkan perjuangan sosialnya. Ia percaya bahwa kerja nyata harus terus dilakukan, apalagi di tengah masyarakat yang masih banyak membutuhkan uluran tangan. Sosoknya menjadi bukti nyata bahwa perempuan Aceh memiliki peran besar dalam membangun solidaritas sosial dan memperjuangkan kemanusiaan.
Kiprah panjang Mutia Sari bukan sekadar catatan dalam lembaran organisasi, tetapi sebuah bukti konsistensi pengabdian yang diwariskan untuk generasi mendatang. Ia hadir sebagai teladan bahwa bekerja untuk rakyat bukanlah beban, melainkan sebuah kehormatan. (TSA)
