BANDA ACEH, 14 Juni 2025
Ketika sejarah berbicara, nurani pun menjawab. Di tengah silang pendapat, dalam riuh rendah tafsir dan batas peta, sebuah kepastian akhirnya hadir: empat pulau yang menjadi perbincangan hangat selama ini adalah milik Aceh. Titik. Tanpa keraguan. Tanpa kompromi.
Sikap tegas Kepala Pemerintahan Aceh, Muzakir Manaf, yang dikenal luas dengan sapaan Mualem, telah menghapus kabut spekulasi yang selama ini menyelimuti hati rakyat. Dalam satu pernyataan penuh keyakinan, Mualem menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk tawar-menawar atas wilayah yang merupakan darah dan nadi sejarah Aceh. Empat pulau di Aceh Singkil itu bukan hanya tanah, melainkan martabat. Bukan sekadar gugusan daratan, tetapi bukti hidup dari jati diri yang tertulis dalam tinta perjuangan dan warisan para pendahulu.
“Tidak ada kompromi,” tegas Mualem. Dan dengan itu, Aceh seolah kembali berdiri tegak, percaya diri, dan penuh harapan.
Pernyataan tersebut bukan hanya disambut dengan tepuk tangan, tetapi dengan linangan rasa haru dan bahagia oleh rakyat Aceh di seluruh penjuru negeri. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Patriot Bela Nusantara PBN Aceh, Drs. M. Isa Alima, menyampaikan apresiasi mendalam. “Ini adalah momen persatuan. Ini membuyarkan spekulasi yang selama ini menjadi bayang-bayang ketidakpastian. Rakyat Aceh hari ini merasa senang, gembira, dan bangga atas ketegasan sikap Mualem. Maka mari kita rawat dan jaga pernyataan ini sebagai tonggak kebangkitan kita semua,” ucapnya lirih namun penuh makna.
Drs. Isa Alima menambahkan bahwa saatnya perbedaan-perbedaan lama dihapus. Saatnya luka-luka sejarah disembuhkan dengan kerja nyata. Tidak ada lagi kegaduhan, tidak ada lagi suara sumbang di antara kita. “Bersama kita teguh, bercerai kita runtuh,” ujarnya mengutip pepatah yang kini kembali relevan dalam denyut perjuangan Aceh.
Apresiasi juga mengalir deras kepada segenap anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh yang tergabung dalam Forbes. Mereka telah kembali ke Aceh dalam satu wadah kebersamaan, duduk sejajar dengan tokoh-tokoh masyarakat, menyatukan pandangan, dan memantapkan langkah. Aceh hari ini bukan hanya bicara dalam satu suara, tetapi juga berdiri dalam satu hati.
Aceh dan Sumatera Utara adalah serumpun.
Demikian pernyataan penuh kearifan dari Isa Alima yang menggambarkan bahwa ini bukan soal sengketa antardaerah, tapi soal kesepahaman dan penghargaan terhadap sejarah. Perbedaan bukan untuk memecah, tapi memperkaya. Apa yang sebelumnya tampak sebagai perselisihan, kini telah dijawab dengan data sejarah yang kokoh: empat pulau itu adalah milik Aceh secara mutlak. Tak terbantahkan.
Dalam sejarah Aceh, kita selalu diajarkan bahwa menjaga tanah adalah menjaga harga diri. Menjaga pulau adalah menjaga ruh dari peradaban yang telah lama berakar di tanah rencong ini. Maka hari ini, ketika kita kembali bersatu, kita tidak hanya menjaga pulau, tetapi juga menjaga cita-cita para pendahulu. Menjaga warisan agar tetap utuh untuk anak cucu.
Momen ini adalah awal.
Awal dari kebersamaan baru.
Awal dari pembangunan Aceh dengan cinta, bukan curiga. Dengan harapan, bukan kecurigaan. Dengan kekuatan, bukan pertikaian.
Mari kita sambut masa depan Aceh dengan tangan terbuka, dada lapang, dan tekad kuat. Karena hanya dengan bersatu, Aceh akan kembali gemilang.
Empat pulau telah menyatukan kita.
Dan semoga, selamanya, kita tetap dalam satu barisan untuk Aceh yang lebih bermartabat.@
