WhatsApp Image 2025-04-14 at 23.50.59 (1)

Sebuah drama televisi asal Malaysia berjudul “Bidaah” tengah menjadi sorotan publik. Alih-alih mendidik masyarakat mengenai konsep bid’ah secara ilmiah dan seimbang, drama ini justru dianggap menguntungkan kelompok Wahabi, khususnya di Indonesia, yang selama ini dikenal gemar memvonis sesat kepada siapa pun yang tidak sepaham dengan mereka.

Meski mengusung judul “Bidaah”, isi cerita drama ini justru dipenuhi isu nikah paksa, nafsu birahi, kekerasan, dan manipulasi agama, dengan penggambaran karakter-karakter bersorban dan berjubah ala sufi sebagai pelaku penyimpangan. Ironisnya, simbol-simbol warisan Islam yang sakral seperti jubah, sorban, dan laqab “Walid” justru dijadikan bahan olok-olok, sehingga memberi kesan bahwa pengamal tasawuf atau ulama tarekat adalah pelaku kebid’ahan.

Menurut Tgk. Umar Rafsanjani, tokoh agama dan pembina Laskar Aswaja Aceh, drama ini sangat berbahaya karena tidak hanya menyebarkan pemahaman bid’ah yang salah, tapi juga menyudutkan ulama-ulama pewaris Nabi yang sebenarnya menjaga kemurnian ajaran Islam. “Ini bukan hanya salah dari sisi isi, tapi sudah masuk ke pembunuhan karakter. Ulama tarekat, simbol Islam, dan pakaian sunnah dijadikan alat untuk menakut-nakuti umat,” tegasnya.

Tgk. Umar juga menegaskan bahwa semua umat Islam tentu membenci dan tidak kompromi terhadap kemaksiatan, apalagi jika ada oknum-oknum yang memperalat agama demi nafsu dan keserakahannya. Namun, kesalahan oknum jangan digeneralisasi dan diarahkan kepada seluruh ulama dengan simbol dan atributnya. “Kalau ada oknum ulama menyimpang, maka salahkan dia sebagai individu, bukan lalu menodai seluruh simbol dan gelar yang digunakan para ulama selama ini,” ujarnya.

Ia mengusulkan, jika memang ingin tetap membuat drama semacam itu, harus ada keseimbangan naratif. Misalnya, jika ada tokoh Walid Muhammad Faizal yang digambarkan jahat, maka harus ada Walid Muhammad Faizul yang berperan sebagai ulama sejati, alim, zuhud, dan mengikuti syariat. Kedua tokoh itu harus setara dan menjadi rival yang seimbang, bukan sekadar guru dan murid. “Jangan sampai laqab Walid, yang selama ini mulia dan digunakan oleh banyak ulama dan tokoh masyarakat, malah rusak dan jadi bahan olokan. Sekarang ketika orang dengar kata walid, yang muncul di benak adalah wajah Walid jahat dari drama itu. Kan kasihan bagi para tokoh yang kesehariannya dipanggil walid,” ungkapnya prihatin.

Kelompok Wahabi pun disebut mendapatkan keuntungan besar dari situasi ini. Drama “Bidaah” justru memperkuat narasi sesat mereka, seolah-olah semua yang terkait dengan tasawuf, tarekat, dan simbol keislaman tradisional adalah sesat dan menyimpang. Padahal, pemahaman bid’ah versi Wahabi itu sangat menyimpang dari manhaj ulama salaf dan mazhab yang muktabar. Mereka tidak membedakan antara bid’ah dengan hukum syariat, atau antara bid’ah dan maksiat.

Masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam mengkonsumsi tontonan bernuansa agama dan tidak menjadikan tokoh fiksi dari dunia hiburan sebagai rujukan utama. Rujukan umat seharusnya kembali kepada para ulama pewaris Nabi, bukan kepada artis dan bintang film yang kehidupan pribadinya sendiri rata rata tidak bisa dijadikan teladan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *