IMG-20251211-WA0026

MEURAH DUA, PIDIE JAYA – Rabu, 10 Desember 2025. Ironi menyelimuti Muhammad M. Piah atau yang akrab disapa Cek Mad (CM). Selama bertahun-tahun dikenal sebagai wartawan senior di Pidie Jaya yang setia melaporkan musibah warga, kini ia justru menjadi salah satu korban banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

 

Rumah kelahirannya sekaligus tempat usaha menjahit dan pusat aktivitas jurnalistiknya yang berada di Gampong Mns Jurong, Teupin Pukat, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, rusak parah akibat diterjang derasnya arus air bercampur lumpur.

 

Banjir bandang yang merendam sebagian besar wilayah Pidie Jaya itu meninggalkan luka mendalam bagi Cek Mad dan keluarga. Peralatan usaha, arsip-arsip penting, hingga barang-barang kenangan masa kecil tak terselamatkan dari terjangan lumpur tebal.

 

“Kondisinya parah. Semua peralatan usaha, arsip-arsip penting, dan barang-barang di rumah keluarga ikut terendam. Lumpur masuk ke mana-mana,” ungkap Cek Mad dengan suara bergetar.

 

Di tengah kesulitan yang dihadapinya, kepedulian pun datang menghampiri. Tim Humas dan Protokol Setdakom Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya (Prokopim) melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk menyerahkan bantuan sembako kepada Cek Mad.

 

Perwakilan Prokopim, Afdal, menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian dari berbagai pihak.

 

“Bantuan ini merupakan perpanjangan tangan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang disalurkan melalui Bapak Teuku Ahmad Dadek, mantan Pj Bupati Pidie Jaya. Selanjutnya kami dari Prokopim menyalurkannya kepada saudara Cek Mad,” jelas Afdal.

 

Cek Mad menyambut bantuan tersebut dengan penuh haru dan rasa syukur. Meski tidak sebanding dengan besarnya kerugian yang dialami, bantuan tersebut sangat berarti dalam masa pemulihan.

“Atas nama pribadi dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Bapak Teuku Ahmad Dadek, serta Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya melalui Prokopim. Bantuan ini sangat meringankan beban kami,” tuturnya.

 

Kisah yang menimpa Cek Mad menjadi gambaran nyata bahwa banjir bandang di Pidie Jaya tidak pandang bulu. Para pelapor berita yang selama ini berada di garis depan menyuarakan penderitaan masyarakat, kini harus berjuang membangun kembali kehidupannya sendiri. Solidaritas dan kepedulian dari berbagai pihak menjadi harapan utama untuk bangkit dari keterpurukan. //Red

 

Editor  : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *