WhatsApp Image 2025-05-29 at 16.33.11

Mediamataelangindonesia.com-Wilayah Pulau Weh
Banda Aceh – Suasana Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala (USK), Rabu (28/5/2025), mendadak hening. Suara MC terdengar lantang memanggil satu nama: Jodi Ramadhansyah. Namun, bukan Jodi yang melangkah ke panggung. Seorang perempuan paruh baya dengan jilbab hitam berjalan pelan menuju Rektor USK. Air matanya jatuh tak terbendung, menandai kisah pilu yang mengguncang prosesi sakral hari itu.

Perempuan itu adalah Fitri Ermawati, ibu kandung Jodi Ramadhansyah, wisudawan Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK. Jodi seharusnya hadir menerima ijazah kelulusannya, namun takdir berkata lain. Ia meninggal dunia dalam kecelakaan kerja, hanya dua bulan sebelum hari kelulusannya.

Perjalanan Duka Seorang Ibu dari Riau ke Panggung Wisuda

Fitri datang jauh-jauh dari Riau ke Banda Aceh, bukan dalam keadaan gembira, melainkan dalam balutan duka yang mendalam. Sejak menginjakkan kaki di Gedung AAC, ia tak mampu menahan air mata. Duduk di barisan depan, matanya sembab dan wajahnya mencerminkan kesedihan yang sulit diucap. Hari itu, ia menggantikan anak sulungnya untuk menerima ijazah kelulusan—sebuah momen yang seharusnya penuh sukacita, namun berubah menjadi upacara penghormatan terakhir untuk sang putra tercinta.

Jodi meninggal dunia pada 31 Maret 2025, enam hari setelah mengalami kecelakaan kerja saat mengikuti kegiatan workshop di Tarumajaya, Bekasi, pada 25 Maret. Ia mengalami luka serius dalam insiden tersebut dan akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit.

Kabar duka itu mengguncang keluarga besar mereka. Jodi bukan hanya anak pertama dari empat bersaudara, tapi juga menjadi tumpuan harapan keluarga. “Kecelakaan itu merenggut papa dan abang,” tutur adik Jodi, M Dwi Fazri Syah, saat mengenang tragedi yang menimpa keluarganya.

Fazri menambahkan bahwa abangnya bercita-cita menjadi pramugara. “Abang Jodi sering cerita tentang mimpinya terbang ke berbagai tempat, mengenakan seragam pramugara, dan membanggakan mama,” kisahnya lirih. Sayangnya, cita-cita itu terkubur bersama kepergiannya.

Tangisan dan Tepuk Tangan Mengiringi di Panggung

Ketika nama Jodi dipanggil, seisi ruangan memberi perhatian. Fitri melangkah naik ke panggung dengan langkah pelan namun tegar. Tangis haru pecah saat ia menerima ijazah dari Rektor USK. Beberapa hadirin ikut meneteskan air mata, merasakan kesedihan yang tak terucap dari seorang ibu yang harus menggantikan posisi anaknya di panggung wisuda.

Rektor USK memberikan pelukan hangat dan penghormatan tulus. Momen tersebut bukan hanya simbol penyerahan ijazah, tetapi juga penghormatan akademik terakhir dari almamater kepada Jodi—mahasiswa yang telah berjuang menuntaskan studinya hingga akhir, meski tak sempat merayakannya.

Di Tengah Duka, Kilau Semangat Tak Pernah Padam

Prosesi wisuda hari itu juga diwarnai oleh kisah inspiratif dari Tuanku Muhammad Farras, satu-satunya wisudawan penyandang disabilitas yang resmi meraih gelar A.Md dari Program Studi Teknik Sipil.

Farras hadir dengan kursi roda, namun senyum merekah di wajahnya menunjukkan kebanggaan luar biasa atas pencapaiannya. Meski harus melewati berbagai tantangan fisik selama masa perkuliahan, Farras membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah membatasi semangat.

“Saya ingin menjadi contoh bahwa kita bisa berhasil, apapun kondisinya,” ujar Farras dengan mata berbinar. Tepuk tangan meriah menyambut pencapaiannya, menunjukkan bahwa perjuangannya tak hanya diakui, tapi juga menginspirasi.

Lebih dari Sekadar Wisuda

Hari itu, Universitas Syiah Kuala melepas sebanyak 738 lulusan dari berbagai fakultas. Namun, bukan hanya capaian akademik yang dikenang, melainkan juga kisah-kisah manusia di balik toga dan ijazah—kisah tentang cinta, kehilangan, perjuangan, dan harapan.

Prosesi wisuda yang seharusnya penuh kegembiraan berubah menjadi momen kontemplatif. Di panggung akademik itu, kita diingatkan bahwa setiap gelar sarjana membawa cerita—ada yang penuh suka cita, ada yang tertunda oleh duka lara.

Fitri Ermawati pulang membawa ijazah anaknya, tapi lebih dari itu, ia membawa pulang penghormatan dari segenap sivitas akademika dan masyarakat yang tergerak oleh ketegaran dan cintanya sebagai ibu.

Demikian Laporan Pantauan Mei-Kabiro Sabang (MJ Eric Novi Karno)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *