By: Cek Mad
Meureudu, 1 Juli 2025
— Suasana haru dan nostalgia kental menyelimuti acara perpisahan Makmurdani, Pegawai Negeri Sipil (ASN) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Pidie, yang resmi purna tugas pada tanggal 1 Juli 2025. Acara yang digelar di kantor Disnakertrans Pidie ini tidak hanya dihadiri rekan sejawat, namun juga menjadi momen reuni emosional antara dua legenda sepak bola lokal era 1980-an: Makmurdani sendiri dan Kepala Dinas Bina Pengawasan Ketenteraman (BPK) Kabupaten Pidie, Apriadi, S.Sos.
Reuni Rival Lama di Lapangan Birokrasi
Kehadiran Kadis BPK Apriadi, S.Sos., memberi warna khusus pada acara. Apriadi bukan sekadar kolega, melainkan mantan rival langsung Makmurdani di lapangan hijau. Pada era keemasan sepak bola Pidie tahun 1980-an, Apriadi dikenal sebagai kiper andalan PSAP Sigli, sementara Makmurdani membela PS. Metro Meureudu dan dinobatkan sebagai kiper terbaik Meureudu kala itu. Pertemuan mereka di acara pensiun ini menguak kenangan heroik sebuah laga besar.
Kenangan Heroik Semi Final dan Tiga Penyelamatan Penalti
“Kami pernah berhadapan langsung di semi final,” kenang Makmurdani, pria kelahiran Meureudu, 26 Juni 1967 itu, dengan mata berbinar. Saat itu, PS. Metro Meureudu yang dibelanya berjibaku melawan Putra Tas Sigli (yang diyakini di-backup pemain PSAP Sigli, termasuk Apriadi sebagai kiper). Pertandingan sengit itu harus ditentukan melalui adu penalti. Di sinilah kebanggaan Makmurdani terpancar. “Alhamdulillah, saya berhasil menggagalkan tiga kali tendangan penalti pemain Putra Tas,” ujarnya, disambut tepuk tangan dan decak kagum hadirin. Aksi heroiknya itulah yang membawa PS. Metro Meureudu melaju ke final. Kisah duel kiper ini menjadi topik hangat dan mengalirkan gelak tawa sekaligus renungan akan masa lalu yang gemilang.
Momen nostalgia itu juga diwarnai duka. Makmurdani, yang merupakan alumni SMA Negeri 1 Meureudu dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, menyisipkan doa untuk rekan-rekan seperjuangannya di lapangan yang telah lebih dulu berpulang. “Banyak rekan kami di era itu yang telah kembali ke hadirat Allah SWT. Semoga mereka husnul khatimah, Aamiin,” ucapnya penuh khidmat, mengingatkan semua yang hadir pada rentang waktu yang telah berlalu.
Suara Hati Pilu: Matinya Sepak Bola di Tanah Kelahiran
Di balik senyum dan kenangan manis, Makmurdani, yang merupakan seangkatan penulis (Cek Mad), menyampaikan keprihatinan mendalam yang menghantuinya setiap kali pulang ke kampung halaman, Meureudu – ibukota Kabupaten Pidie Jaya. “Rasa sedih yang paling dalam adalah melihat kondisi persepakbolaan Meureudu sekarang,” tuturnya dengan nada lirih. Menurutnya, kota yang dulu melahirkan pemain-pemain sekaliber *Agamal, Yusmachdi Mahmud, dan dirinya sendiri dari rahim **Lapangan Kota Meureudu*, kini kehilangan rohnya.
“Tidak ada lagi pemain bola yang muncul dari Meureudu,” ujarnya prihatin. Kepulangannya ke Meureudu selalu disertai kepedihan melihat nasib *Lapangan Kota Meureudu* yang kini tidak berfungsi optimal. Lapangan bersejarah yang dulu menjadi pusat pembinaan dan pencetak bibit-bibit unggul sepak bola untuk Pidie Jaya itu kini sepi dari kegiatan pelatihan dan regenerasi pemain. “Lapangan hijau Kota Meureudu itu adalah saksi bisu lahirnya pemain-pemain hebat masa lalu. Sangat disayangkan jika potensi itu kini hilang,” tambahnya, menyiratkan kerinduan akan kejayaan sepak bola lokal yang telah memudar.
Seruan untuk Regenerasi
Perpisahan Makmurdani dari dunia birokrasi menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Ia menyampaikan pesan kuat kepada generasi sekarang dan pihak terkait. Nostalgia pertemuannya dengan Apriadi bukan hanya tentang kemenangan di masa lalu, tapi juga pengingat akan semangat dan infrastruktur yang pernah menjadikan Meureudu kawah candradimuka pemain bola. Harapannya, gelora sepak bola di Meureudu bisa kembali hidup, Lapangan Kota Meureudu direvitalisasi, dan regenerasi pemain berbakat terwujud, sehingga suatu saat nanti akan muncul lagi Agamal, Yusmachdi, atau Makmurdani-Makmurdani baru dari tanah Pidie Jaya.
Acara perpisahan ditutup dengan doa bersama untuk kesuksesan Makmurdani di masa pensiun dan harapan agar suara keprihatinannya tentang sepak bola Meureudu didengar oleh semua pemangku kepentingan. Kisahnya, dari menjaga gawang PS. Metro Meureudu hingga mengabdi sebagai ASN, dan kini kembali menyuarakan hati nurani untuk olah raga kebanggaan masyarakatnya, menjadi warisan berharga yang mengalir melewati batas waktu. (CM)
