Meureudu, Pidie Jaya. Mediamataelang.com – Langit Pidie Jaya seakan tak ingin berhenti menangis. Setelah berbulan-bulan berjuang bangkit dari reruntuhan lumpur dan air bah, Panti Asuhan Darul Aitam yang berada di kompleks Masjid Agung Tgk. Chik Di Pante Geulima, Meureudu, kembali porak-poranda. Musibah beruntun kembali menghantam lembaga yang selama ini menjadi tempat berlindung puluhan anak yatim piatu tersebut.

Pimpinan Panti Asuhan Darul Aitam, Ustadz Azhari, dengan berlinang air mata menceritakan duka yang tak pernah usai ini kepada Cek Mad, wartawan media ini. Suaranya tersendat, matanya sembap, dan tangannya gemetar saat menunjukkan sisa-sisa bangunan yang baru saja diperbaiki, kini kembali tenggelam dalam genangan air dan lumpur tebal.

“Kami baru saja mulai bernapas lega. Anak-anak sudah mulai tersenyum lagi, sudah bisa mengaji dan bermain. Tapi tiba-tiba, semuanya lenyap dalam semalam,” ujar Ustadz Azhari dengan suara lirih, sesekali menyeka air mata yang tak terbendung.

Banjir Bandang Pertama: 5 Bulan Terjebak Lumpur

Kilas balik ke tahun lalu, tepatnya 26 November 2025, banjir bandang pertama meluluhlantakkan kawasan Meureudu. Saat itu, kompleks Panti Asuhan Darul Aitam terendam air dan lumpur hingga ketinggian mencapai lebih dari 1 meter. Lebih parahnya, lumpur dan air tersebut bertahan hingga lima bulan lamanya. Selama periode itu, seluruh aktivitas panti lumpuh. Dinding-dinding bercak kuning, lantai berlendir, dan bau apek menyengat di setiap sudut ruangan.

Puluhan anak yatim piatu terpaksa dievakuasi ke rumah-rumah warga sekitar. Ustadz Azhari bersama para relawan bahu-membahu membersihkan lumpur, mengepel lantai, dan sedikit demi sedikit merehabilitasi ruang belajar, dapur, serta kamar tidur. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Hampir seluruh dana operasional panti yang dikumpulkan dari donatur habis untuk pemulihan pasca banjir pertama.

Hampir Pulih, Banjir Kedua Datang Lebih Ganas

Setelah kerja keras tanpa kenal lelah, akhirnya pada awal April 2026, Panti Asuhan Darul Aitam mulai terlihat seperti sedia kala. Tembok-tembok telah dicat ulang, lantai sudah bersih, dan para anak yatim piatu pun telah kembali beraktivitas penuh di panti. Senyum dan tawa kecil mereka mulai menghiasi kembali setiap ruangan. Ustadz Azhari sempat merasa doa-doa mereka mulai dijawab oleh Yang Maha Kuasa.

Namun, takdir berkata lain. Pada tanggal 8 April 2026, tanpa diduga, hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Pidie Jaya selama lebih dari 12 jam. Air dari hulu sungai meluap dengan kecepatan luar biasa. Dalam hitungan jam, kompleks Panti Asuhan Darul Aitam kembali berubah menjadi lautan air bah. Lebih parah dari sebelumnya, banjir kali ini datang tiba-tiba di malam hari, membuat panik seluruh penghuni panti.

“Anak-anak menjerit ketakutan. Kami hanya sempat menyelamatkan dokumen penting dan beberapa lembar pakaian. Sisanya… semuanya habis,” kenang Ustadz Azhari dengan suara bergetar.

Kini, seluruh fasilitas yang ada di panti kembali terendam. Meja, kursi, lemari, tempat tidur, buku-buku pelajaran, hingga alat-alat ibadah semuanya bercampur aduk dengan lumpur hitam pekat. Dapur umum yang baru selesai direnovasi kini luluh lantak. Bahkan, persediaan beras yang baru saja dibeli untuk kebutuhan anak-anak selama dua minggu ke depan, turut hanyut dan rusak terendam air. “Beras yang tersimpan di gudang, semuanya habis. Tidak ada satu butir pun yang terselamatkan,” tambahnya sambil menunduk.

Panggilan Peduli untuk Para Yatim Piatu

Saat ini, puluhan anak yatim piatu yang seharusnya merasa aman dan nyaman di panti asuhan, kembali menjadi korban. Mereka kembali kehilangan tempat bermain, tempat belajar, dan tempat untuk merasakan hangatnya kasih sayang. Mereka kini tinggal di tenda-tenda darurat atau di rumah-rumah warga yang masih tersisa, dengan kondisi yang sangat terbatas.

Untuk itu, melalui tulisan ini, kami dari media ini mengajak segenap pembaca yang memiliki hati nurani, para dermawan, pemerintah daerah, Baznas, serta lembaga kemanusiaan lainnya untuk segera turun tangan. Panti Asuhan Darul Aitam saat ini sangat membutuhkan uluran tangan kita semua.

Bantuan yang paling mendesak saat ini adalah:

  1. Tenaga Relawan untuk membantu pembersihan lumpur dan puing-puing reruntuhan.
  2. Bahan Makanan Siap Saji dan makanan pokok (beras, mie instan, lauk pauk, air bersih, susu anak).
  3. Peralatan kebersihan (sapu, pel, ember, cairan pembersih lantai, sarung tangan, masker).
  4. Kebutuhan sandang (pakaian layak pakai untuk anak-anak usia 5–15 tahun) dan selimut.
  5. Peralatan sekolah (buku, alat tulis, tas) karena aktivitas belajar anak-anak sudah sangat tertinggal.
  6. Material bangunan (semen, pasir, cat, triplek) untuk rehap ulang fasilitas panti.

Ustadz Azhari berpesan dengan suara lirih namun penuh harap, “Jangan biarkan anak-anak yatim ini menangis lagi. Mereka sudah kehilangan orang tua, jangan biarkan mereka juga kehilangan harapan. Sedikit bantuan dari Bapak/Ibu akan sangat berarti bagi masa depan mereka.”

Mari kita buktikan bahwa di tengah musibah, masih ada ribuan tangan yang siap membantu. Jangan tunda. Waktu sangat kritis. Salurkan bantuan Anda sekarang juga.

Mari kita keringkan air mata mereka dengan uluran tangan kita. Karena kebahagiaan anak-anak yatim ini adalah tanggung jawab kita bersama. (CM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *