Aceh Besar mataelangindonesia.com — Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh tenaga pendidik asal Aceh Besar. Rizki Hawalaina, guru Bahasa Inggris jenjang SMA di Sekolah Rakyat (SRMA 1) Aceh Besar, berhasil menyabet gelar Juara 1 Duta Guru CBP Rupiah Championship 2026 tingkat Provinsi Aceh. Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh dalam rangkaian Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI).

Pengumuman juara berlangsung pada Jumat malam (12/6/2026) di Ballroom Hermes Palace Hotel Banda Aceh, disaksikan oleh para pejabat BI Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, serta ratusan guru dan undangan. Rizki Hawalaina keluar sebagai yang terbaik setelah melalui proses seleksi yang sangat panjang dan ketat selama lebih dari dua bulan.

Perjuangan Panjang di Tengah Kesibukan

Bagi Rizki, gelar ini bukan sekadar piala atau hadiah. Ia melewati tahapan administrasi yang menyeleksi ribuan guru dari 23 kabupaten/kota se-Aceh. Hanya 15 guru terbaik yang lolos ke babak video promosi pendek, di mana setiap peserta harus membuat konten kreatif bertema “Cinta, Bangga, Paham Rupiah” (CBP Rupiah). Video Rizki yang mengajak siswa berbelanja cerdas dengan uang rupiah di pasar tradisional mendapat apresiasi tertinggi dari juri.

Tahapan puncak adalah karantina selama tiga hari dua malam (10–12 Juni 2026) bersama 10 finalis terbaik. Dalam masa karantina, para peserta menjalani serangkaian ujian: presentasi karya inovasi pembelajaran, wawancara mendalam tentang literasi keuangan, hingga simulasi mengajar di hadapan dewan juri yang terdiri dari akademisi, praktisi perbankan, dan psikolog pendidikan.

“Ini adalah pengalaman paling melelahkan sekaligus membanggakan dalam karier saya sebagai guru,” ujar Rizki dengan mata berbinar, usai menerima trofi dan selempang juara. “Saya harus membagi waktu antara mempersiapkan materi kompetisi, mengajar di kelas, dan menjalankan tugas sebagai wakil kepala bidang humas. Tanpa doa dari keluarga dan dukungan rekan-rekan, saya pasti tidak akan kuat.”

Inovasi Pembelajaran: Dari Ruang Kelas ke Pasar Tradisional

Apa yang membuat Rizki unggul? Juri terkesan dengan inovasi pembelajarannya yang diberi nama “English for Financial Freedom: Integrating CBP Rupiah into Project-Based Learning”. Dalam proyek ini, siswa diajak tidak hanya belajar kosakata bahasa Inggris terkait keuangan, tetapi juga terjun langsung ke Pasar Induk Lambaro untuk mewawancarai pedagang dalam bahasa Inggris tentang bagaimana mereka mengelola uang rupiah sehari-hari.

Siswa kemudian membuat vlog pendek bilingual (Inggris-Aceh) yang berisi pesan-pesan bijak menggunakan uang rupiah, menabung, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Vlog-vlog tersebut diunggah ke kanal YouTube sekolah dan menjadi tontonan edukatif bagi masyarakat.

“Literasi keuangan harus dimulai sejak dini, dan guru adalah ujung tombaknya,” jelas perempuan kelahiran Banda Aceh, 27 April 1994 ini. “Kebetulan saya mengajar bahasa Inggris, jadi saya padukan dengan kearifan lokal. Anak-anak jadi lebih antusias karena mereka merasa belajar hal yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.”

Dukungan Penuh dari Keluarga dirumah.

Ibunya, Muslailati yang juga Guru MAN di PIDIE JAYA., mengungkapkan rasa bangganya. “Rizki adalah putri yang luar biasa energik. Sejak jadi guru tiga tahun lalu, dia sudah menginisiasi banyak program inovatif. Jabatan wakil kepala humas yang disandangnya tidak membuatnya lupa untuk terus mengembangkan metode mengajar. Prestasi ini adalah buah dari kerja keras dan ketulusannya.”

Para siswa pun tak kalah bangga, mengaku terinspirasi. “Bu Rizki itu guru yang asyik. Belajar sama beliau tidak pernah membosankan. Kami semua mendoakan beliau supaya sukses di tingkat nasional nanti.”

Mewakili Aceh ke Panggung Nasional

Dengan raihan Juara 1 Provinsi Aceh, Rizki Hawalaina berhak membawa nama Aceh ke ajang Duta Guru CBP Rupiah Tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Jakarta . Ia akan bersaing dengan para duta guru dari 33 provinsi lainnya.
Namun, bagi Rizki, hadiah terbesar adalah kesempatan untuk berbagi praktik baik. “Saya ingin menunjukkan bahwa guru dari Aceh, dari sekolah yang mungkin tidak berada di pusat kota, juga bisa berkarya dan berinovasi. Saya akan persiapkan diri sebaik mungkin untuk membawa harum nama Aceh di kancah nasional.”

Harapan untuk Dunia Pendidikan Aceh

Rizki menutup perbincangan dengan pesan inspiratif untuk para pendidik di Aceh. “Jangan pernah lelah berinovasi. Tantangan akan selalu ada, tapi di balik setiap tantangan ada peluang untuk tumbuh. Mari kita jadikan ruang kelas sebagai laboratorium perubahan. Dari Aceh, kita buktikan bahwa guru adalah pahlawan literasi keuangan bangsa.”

“Dari Aceh untuk Indonesia, menginspirasi melalui pendidikan dan literasi keuangan.”

Editor : CM Cek Mad
Sumber: Ibu Muslailati, S.Pd., Guru Kimia MAN 4 Pidie Jaya di Trienggadeng asal Meureudu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *