MEUREUDU,mediamataelangindonesia.com – Denting rebana dan alunan lagu daerah bergema di sepanjang jalan utama Mideum Meureudu, Sabtu (13/6/2026). Ratusan pasukan drumben dengan seragam berwarna mencolok berjalan kompak, diikuti parade anak-anak TK yang mengenakan pakaian adat mini, hingga kelompok hadroh yang mengumandangkan shalawat dengan lantang. Karnaval dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Pidie Jaya itu diikuti oleh 2.000 pelajar dari sekitar 100 sekolah jenjang TK, SD, MI, hingga SMP sederajat. Mereka memadati ruas protokol, menampilkan kegembiraan yang kontras dengan kepedihan beberapa bulan lalu, saat bencana hidrometeorologi menyisakan luka.
Pelepasan peserta karnaval dilakukan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Dr. Munawar Ibrahim, S.Kp., M.PH, mewakili Bupati Pidie Jaya H. Sibral Malasyi MA, S.Sos, ME. Dalam sambutannya yang penuh haru, Munawar Ibrahim menegaskan bahwa gelaran ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan terapi kolektif bagi warga Pidie Jaya.
“Ini adalah bukti nyata bahwa semangat kebersamaan kita tidak padam diterpa bencana. Saya melihat langsung mata anak-anak ini berbinar, mereka menari, bernyanyi, memamerkan hasil karya dari barang bekas yang disulap menjadi kostum spektakuler. Karnaval ini adalah wadah edukatif yang luar biasa—mengajarkan anak mencintai keberagaman budaya, memperkuat kerja sama tim, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Tema kita, ‘Pidie Jaya Bangkit Bersyariat, Pulih Bersama’ , benar-benar terpancar dari setiap langkah mereka,” ujar Munawar Ibrahim dengan suara lantang, dikelilingi oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesra Setdakab drh. Muzakkir, M.M, Ketua TP-PKK Ny. Asmawati Sibral, Ketua BKMT Eva Juliesi Hasan, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Junarwati Munawar.
Kreativitas Tak Terbatas: Dari Tari Saman Hingga Robot dari Kardus
Sepanjang lintasan sejauh 2 kilometer, ribuan penonton yang berjejer di pinggir jalan tak henti-hentinya memotret dan memberi tepuk tangan. Kelompok pelajar SD dari kawasan Ulee Gle misalnya, tampil dengan kostupermainan tradisional Aceh yang dipadukan aksesoris dari janur dan daun kelapa. Sementara itu, kontingen SMP dari Bandar Dua menampilkan miniatur rumah tradisional Rumoh Aceh yang dibawa berjalan di atas panggung dorong, dihiasi ornamen kaligrafi.
Tak ketinggalan, nilai-nilai keislaman menjadi corak dominan. Beberapa kelompok menampilkan drama kecil tentang kisah nabi dan akhlak mulia, sementara yang lain membawa replika masjid megah dari bahan daur ulang. “Kami ingin tunjukkan bahwa meski baru saja melewati banjir bandang dan tanah longsor, kami tetap bersyariat dan kreatif,” ujar Rina, guru pendamping dari salah satu MI di kawasan Trienggadeng, sambil sesekali merapikan jilbab murid-muridnya.
Pendidikan Sebagai Motor Pemulihan Sosial
Sebelum pelepasan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie Jaya, Teuku Muhalil, S.E., M.Si., Ak, menjelaskan bahwa karnaval ini dirancang sebagai proyek penguatan profil pelajar Pancasila dan karakter lokal Aceh.
“Kegiatan ini memiliki nilai strategis. Kami tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memulihkan trauma sosial pascabencana. Melalui karnaval, anak-anak belajar disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Antusiasme yang luar biasa dari para siswa, guru, dan orang tua membuktikan bahwa pendidikan adalah motor penggerak kebangkitan Pidie Jaya. Kami berkomitmen untuk melestarikan agenda ini setiap tahun,” jelas Teuku Muhalil di sela-sela pendampingan peserta.
Sekda Munawar Ibrahim menambahkan, momentum Hari Jadi ke-19 ini juga menjadi sarana mengenang perjuangan para pendiri daerah sekaligus memperkuat tekad bersama. “Kita lihat hari ini, anak-anak kita sehat, ceria, dan penuh karya. Inilah wajah sebenarnya Pidie Jaya: kuat, berbudaya, dan tak pernah menyerah. Mari kita jadikan semangat karnaval ini sebagai energi untuk membangun daerah kita yang lebih maju dan berdaya saing,” pungkasnya.
Penutup yang Semarak
Karnaval berlangsung tertib dan meriah hingga pukul 17.30 WIB, ditutup dengan atraksi massal Tari Likok Pulo yang diikuti oleh seluruh peserta dan pejabat daerah di halaman Pendopo Bupati. Sejumlah hadiah menarik pun diberikan untuk kategori kostum terbaik, koreografi paling inovatif, dan kontingen paling kompak. Dari balik senyum dan peluh para peserta, Pidie Jaya menunjukkan satu pesan tegas: bencana memang meruntuhkan rumah, tetapi tidak pernah mampu meruntuhkan jiwa mereka untuk bangkit.
Editor : CM Cek Mad
(Sumber: Prokopim/Yuni / Editor: Tim Humas Pidie Jaya)
