Pidie Jaya,mataelangindonesia.com – Di tengah nilai-nilai adat, syariat, dan kehormatan yang dijunjung tinggi, sebuah peristiwa memilukan terjadi di Pidie Jaya. Seorang Wakil Bupati diduga melakukan pemukulan terhadap Kepala SPPG, menyebabkan korban harus dilarikan ke Puskesmas. Tindakan ini tidak hanya melukai fisik, tetapi juga mencederai azas perikemanusiaan dan martabat jabatan.

Pemerhati kebijakan publik Aceh, Drs. M. Isa Alima, mengecam keras tindakan tersebut dan menuntut agar proses hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. “Kita ingin ini diproses hukum. Main hakim sendiri itu pelanggaran hukum. Tidak layak seorang Wakil Bupati main pukul-pukul seperti preman,” tegas Isa Alima dengan nada prihatin.

Isa menilai bahwa kekuasaan tanpa kendali adalah ancaman bagi demokrasi dan kemanusiaan. Peristiwa ini terjadi di saat pemerintah sedang berupaya memperkuat etika birokrasi dan pelayanan publik yang beradab. Seorang pejabat publik, menurutnya, harus menjadi teladan dalam berpikir dan bertindak, bukan menebar ketakutan di kalangan bawahan.

“Bagus kalau mau sidak, karena itu bagian dari tanggung jawab. Tapi kalau menemukan kekurangan, bimbinglah dengan bijak, bukan dengan tangan yang mengepal. Pemimpin itu meneduhkan, bukan menakut-nakuti,” ucap Isa, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PBN Aceh.

Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan, sekecil apa pun, tidak dapat dibenarkan. Jabatan adalah amanah rakyat, bukan senjata untuk melukai rakyat. “Rakyat memberi mandat untuk memimpin dengan hati, bukan memberi kuasa untuk membogem. Ketika tangan pejabat berubah menjadi tinju, maka yang luka bukan hanya kepala seseorang, tapi juga nurani rakyat yang pernah percaya,” sambungnya.

Isa meminta agar penegak hukum bersikap tegas dan adil. Jika kasus ini tidak diproses secara hukum, pesan moral kepada masyarakat akan rusak, dan kekerasan oleh pejabat bisa dianggap sebagai hal yang lumrah.

“Kalau ini tidak diproses hukum, maka yang lain akan menganggap main pukul bukan pelanggaran. Ini harus dihentikan. Jangan biarkan kekuasaan berjalan tanpa hati nurani,” tutup Isa dengan nada getir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *