IMG-20240622-WA0000

 

Mataelangindonesia.com – Ogan Ilir Sumsel,  Mewakili Sohibul hajat keluarga Almarhum Tajudin Junaidi Bin Hamdan Kapten Inf Samsul Rizal (ustadz Sam) pada malam ketiga mengundang Warga di kediaman almarhum di dusun 3 desa Ulak Kerbau Lama kecamatan Tanjung Raja kabupaten Ogan Ilir melakukan pembacaan Yasin, Tahlil, mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Gamal Abdullah (Tanjung Raja) dan ceramah oleh KH. Dumiyati Umar tentang kematian, dengan meyakinkan orang beriman bahwasanya akan adanya kehidupan sesudah kematian, dan pada hakikat kita hidup di dunia hanyalah tentang menunggu waktu sholat dan disholatkan, Jum’at (21/06/2024).

Dalam sambutannya Ustadz Sam sebagai wakil tuan rumah Sohibul hajat mengucapkan,” Terima kasih kepada kepala kampung, kadus, kades Ulak Kerbau Lama dan warga yang telah membantu dari proses fardlu kifayah, pemakaman, hingga Tiga hari sekaligus tujuh hari mamang kami, orang tua kami, Tajudin Junaidi bin Hamdan Bin Lambur dan rasa syukur itu tentunya Ucapan dari hati kami yang terdalam, bersyukur kami sekeluarga besar juga dari Palembang sampai di tempat tujuan kediaman almarhum mamang hingga acara ini terlaksana,” Pungkasnya.

Dalam kajian tausiah tentang mengingat kematian terhadap Sohibul hajat dan jama’ah takziah yang hadir, KH Dumiyati Umar berpesan, orang beriman senantiasa sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi Muhammad SAW  yang bersabda:
“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian,

Mengutip buku Kisah dan ‘Ibrah oleh Syofyan Hadi dikisahkan seorang sahabat nabi yang mencoba kabur dari malaikat maut. Dia bahkan pergi ke tempat yang sangat jauh (India) demi menghindari malaikat Izrail,

Dikisahkan bahwa semasa hidup Nabi Sulaiman, ada seorang sahabatnya yang hari-harinya selalu di istana Sulaiman untuk belajar sekaligus membantu pekerjaan istana.

Suatu waktu, malaikat Izrail berkunjung ke istana Nabi Sulaiman dalam wujud manusia. Dalam pertemuan tersebut, sahabat Sulaiman melihat seseorang yang dinilai aneh dan asing di Istana.

Seseorang yang dimaksud tak lain adalah malaikat Izrail. Dia selalu memandangi sahabat Nabi Sulaiman itu dengan pandangan yang mengerikan.

Setelah pertemuan tersebut, dia bertanya kepada Nabi Sulaiman mengenai maksud kedatangan orang asing itu di Istana. Nabi Sulaiman menjawab bahwa orang itu ialah malaikat maut yang datang bertamu kepadanya.

Mengetahui hal tersebut, perasaan takut dan resah semakin menghantui terlebih mengingat cara malaikat maut memandangnya. Dia menduga kedatangan malaikat maut itu untuk menjemputnya kembali ke tempat peristirahatan terakhir.

Ketakutannya membuatnya ingin berlari menghindari kematian. Dia memohon kepada Nabi Sulaiman agar dibawa ke suatu tempat yang jauh.

Karena terus didesak, Nabi Sulaiman akhirnya mewujudkan keinginan sahabatnya itu. Kemudian, Nabi Sulaiman pun memerintahkan salah seorang tentaranya yaitu angin untuk membawa sahabatnya itu ke tempat tepatnya di India.

Keesokan harinya, malaikat maut kembali berkunjung ke Istana Sulaiman dengan wujud yang sama. Nabi Sulaiman lalu bertanya mengenai alasan memandang sahabatnya dengan pandangan yang menyeramkan di pertemuan kemarin.

Malaikat maut menjawab, “Kemarin aku resah karena aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di India, namun dia masih berada di sini. Namun, pada jam dan saat yang telah ditentukan nyawanya dicabut tiba-tiba saya telah menemukan nya di India. Alhamdulillah, dia sudah meninggal dunia tepat pada waktu dan tempatnya,” Tutup malaikat maut.

Mendengar cerita malaikat, Nabi Sulaiman hanya bisa mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”.
Allah telah memperingatkan manusia tentang kematian dalam sejumlah ayat Al-Quran. Kematian telah menjadi ketetapan-Nya yang tak dapat diubah atau ditunda.

Dalam surat An-Nisa ayat 78 menjelaskan, seperti berikut;

Yang artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Itulah tadi sepenggal kisah sahabat Nabi Sulaiman yang lari ke India demi menghindari kematian. Semoga dapat menjadi hikmah dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT, ” tandas KH. Dumiyati Umar.   (Adipatih)

Editor : Aslam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *