WhatsApp Image 2025-07-03 at 19.29.44

Mediamataelangindonesia.com-Wilayah Pulau Weh (Sabang)
ACEH, 3 Juli 2025 —
Aceh kembali menggema di panggung sejarah dan pariwisata. Melalui gerakan “Aceh Back to History”, masyarakat dari berbagai elemen — mulai dari relawan, tokoh adat, ulama, keturunan bangsawan, hingga pelaku wisata dan budaya — bersatu menegaskan pentingnya sejarah sebagai fondasi kemajuan peradaban dan pilar kebangkitan pariwisata daerah.

Aceh bukan hanya dikenal sebagai tanah rencong atau Serambi Makkah, tetapi juga sebagai negeri yang memiliki rekam jejak sejarah panjang dan menginspirasi dunia. Dari abad ke-7 Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai sebagai pusat penyebaran Islam pertama di Nusantara, hingga masa keemasan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Iskandar Muda, Aceh telah memperlihatkan kebesaran diplomasi, kekuatan militer, dan kecanggihan ilmu pengetahuan yang mendahului zamannya.

Armada laut “Cakra Donya”, laksamana perempuan pertama di dunia asal Aceh, kedutaan luar negeri milik kerajaan Aceh, serta jaringan perdagangan internasional dari Eropa, Arab hingga Asia Timur adalah bukti nyata bahwa Aceh pernah menjadi poros peradaban dunia. Nama-nama besar seperti Ibnu Batuthah dan Marcopolo pernah mencatat kehebatan Aceh dalam manuskrip dan arsip luar negeri.

Namun sejarah tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai kekuatan dalam menggerakkan potensi pariwisata. Padahal, Aceh memiliki jejak wisata sejarah yang luar biasa:

Benteng Inong Balee di Krueng Raya, benteng pertahanan laksamana wanita Aceh

Komplek Makam Sultan-Sultan Aceh

Museum Tsunami dan Kapal Apung PLTD yang menjadi simbol kekuatan spiritual masyarakat pasca bencana

Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi ikon spiritual dan sejarah perlawanan Belanda

Kilometer Nol Sabang sebagai titik ujung barat Indonesia

serta situs-situs kerajaan dan adat lainnya yang menyimpan kisah luar biasa.

Melalui gerakan ini, GARDA (Gabungan Relawan Mualem-Dekfadh) bersama ormas, yayasan budaya, pelaku UMKM wisata, serta masyarakat Aceh dari berbagai kabupaten/kota berkomitmen untuk mendorong pelestarian sejarah, memperkuat literasi budaya, dan menjadikan wisata sejarah sebagai pilar ekonomi baru di Aceh.

“Sejarah tak hanya untuk dikenang, tapi untuk dijadikan kekuatan membangun masa depan. Wisata berbasis sejarah adalah peluang emas untuk mengangkat Aceh ke panggung dunia,” tegas salah satu inisiator gerakan.

Dalam momentum ini, GARDA mengajak pemerintah daerah, akademisi, komunitas sejarah, hingga generasi muda untuk:

Meningkatkan dokumentasi dan digitalisasi situs sejarah

Menyusun narasi sejarah lokal dalam paket wisata edukatif

Mendorong kurikulum lokal di sekolah agar mengenal sejarah Aceh lebih dalam

Melibatkan masyarakat dalam menjaga dan merawat situs sejarah sebagai warisan tak ternilai

Kesimpulan:

Sejarah dan pariwisata adalah dua kekuatan besar Aceh yang harus bersinergi.

Pelestarian sejarah menjadi pondasi kuat untuk membangun industri wisata yang berkelanjutan.

Aceh bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang kebangkitan peradaban masa depan.

Aceh Bangkit Lewat Sejarah. Pariwisata Tumbuh dari Warisan Budaya.
“Aceh Back to History: Dari Jejak Kejayaan Menuju Pusat Wisata Dunia.”

Demikian Laporan Media Mata Elang Indonesia Com Wilayah Sabang (Kabiro)Eric Karno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *