IMG-20261016-WA0212

Ngawi-mediamataelangindonesia.com
Saat kemarau, petani tak mungkin mengandalkan aliran air irigasi lantaran mengering. Di hulu saja, jumlah air juga surut. Sementara mengandalkan pompa diesel bukan solusi. Pemicunya, bahan bakar untuk mengaktifkan pompa tersebut sulit didapat.

Dalam kondisi ini, sumur bor dengan pompa listrik atau sumur sibel menjadi solusi agar sawah tetap mendapat pasokan air. Sayangnya, membangun sumur ini butuh biaya cukup besar.

Bagi Madirun, petani di Desa Dempel, Kecamatan Geneng, sumur bukan sekadar sumber air, melainkan penopang keberlangsungan usaha tani. Penggunaan sumur untuk mengairi sawah di wilayahnya telah berkembang seiring perubahan sistem pengairan, dari mesin diesel hingga pompa listrik yang kini semakin banyak digunakan.

Madirun menuturkan, dahulu sawah di wilayahnya masih mendapat pasokan air dari jaringan irigasi. Namun, kondisi tersebut berubah setelah pengelolaan air di lapangan tidak lagi menjamin seluruh petak sawah memperoleh pasokan yang sama. Petani yang berada di bagian ujung saluran semakin kesulitan mendapatkan air.

“Dulu zaman Orde Baru itu irigasi sampai sini. Sampai dari kawasan dekat kawasan Kantor Kecamatan Geneng sana, tapi sekarang perubahan caranya. Semenjak reformasi 1999, orang mengambil air sendiri-sendiri. Jadi, air sudah enggak sampai sini. Dulu air sampai sini semua,” ujarnya.

Kondisi itu mendorong petani mencari sumber air alternatif. Mereka mulai membuat sumur patok atau sumur dalam dan menggunakan mesin diesel untuk memompa air ke sawah. Seiring waktu, biaya dan kesulitan memperoleh bahan bakar membuat petani beralih ke pompa listrik.

Perubahan tersebut tidak terjadi sekaligus. Petani harus mengumpulkan dana secara berkelompok untuk memasang jaringan listrik hingga ke lahan pertanian. Mereka juga melibatkan penyuluh pertanian dan dinas terkait untuk mencari solusi pembiayaan.

Madirun mengatakan, petani bahkan harus menghimpun iuran untuk pengadaan tiang listrik dan perangkat pendukung lainnya. Sebagian biaya ditutup melalui pinjaman yang pembayarannya dilakukan setelah panen.

“Dulu tiang itu juga beli. Jadi, misalnya ada 10 sampai 20 orang, nanti dihitung berapa tiang dan iurannya berapa. Kita pasang, terus kita juga pinjam, nanti bayarnya panen,” katanya.

Kini, penggunaan sumur sibel semakin meluas di Desa Dempel. Menurut Madirun, hampir setiap petak sawah telah memiliki akses terhadap sumur, termasuk lahan berukuran seperempat hektare hingga satu hektare. Sebagian petani mempunyai sumur sendiri, sementara lainnya memanfaatkan sumber air yang digunakan bersama.

Bagi Madirun, keberadaan sumur membuat pengairan lebih mudah diatur. Ia mengaku memiliki 10 sumur untuk mendukung pengairan lahan yang dikelolanya.

Meski demikian, sumur tidak sepenuhnya menghilangkan persoalan air saat kemarau panjang. Penurunan ketersediaan air tetap dirasakan petani, terutama ketika kebutuhan pengairan meningkat pada masa pengolahan tanah dan penanaman.

“Mayoritas memang berkurang pasti saat kemarau, dan terasa semua,” tuturnya.

Biaya Sumur Mencapai Belasan hingga Puluhan Juta Rupiah

Peralihan ke sumur sibel membutuhkan modal yang tidak sedikit. Madirun memperkirakan biaya pembuatan sumur bor dengan kedalaman sekitar 60 meter, termasuk pompa sibel dan pemasangan listrik, saat ini mencapai sekitar Rp15 juta untuk ukuran diameter empat inci.

Dari jumlah tersebut, pemasangan listrik saja diperkirakan menelan biaya sekitar Rp4,5 juta. Setelah sumur terpasang, petani masih harus menyediakan biaya operasional untuk memompa air selama musim tanam.

Madirun memperkirakan anggaran listrik untuk pengairan pada musim kemarau mencapai sekitar Rp4 juta per hektare. Besaran tersebut merupakan perkiraan yang disiapkan petani, sehingga biaya aktual dapat berbeda sesuai luas lahan, kebutuhan air, dan lama penggunaan pompa.

Hartono -Ngawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *