WhatsApp Image 2025-06-01 at 22.58.52

Pidie, 2 Juni 2025 Kabupaten Pidie sedang memasuki babak baru dalam sejarah pembangunannya. Di bawah kepemimpinan Bupati Sarjani Abdullah dan Wakil Bupati Al-Zaizi untuk periode 2025–2030, arah pembangunan difokuskan pada semangat TAPUGA PIDIE, sebuah visi yang menekankan partisipasi masyarakat, kolaborasi lintas sektor, dan pembangunan yang menyentuh jiwa rakyat.

Namun di balik itu semua, ada filosofi yang lebih dalam yang ingin mereka bangun: Pidie sebagai rumah.

Pidie adalah rumah. Ia bukan sekadar titik di peta, bukan hanya kabupaten dengan kode administratif. Ia adalah tempat di mana suara azan membelah subuh dari gampong ke gampong, tempat sawah menghijau setelah hujan semalam, dan tempat anak-anak menghafal ayat suci dengan langit sebagai atap dan cinta sebagai cahaya.

Tapi rumah ini, rumah kita, sedang berjuang untuk berdiri lebih tegak.

Karena itu, Bupati Sarjani menegaskan lima langkah strategis yang menjadi fondasi awal dalam membangun rumah bernama Pidie:

1. Melanjutkan Pembangunan Masjid Agung Al-Falah Sigli

Lebih dari sekadar bangunan fisik, masjid agung adalah lambang peradaban dan persatuan sekaligus Icon Kabupaten Pidie. Proyek yang sempat terhenti ini kini kembali menjadi prioritas, agar menjadi pusat spiritual dan kebudayaan yang membangkitkan semangat umat.

2. Program “Satu Hari Satu Ayat”

Menghidupkan nilai-nilai keislaman melalui program harian yang sederhana tapi berdampak dalam. Literasi Al-Qur’an akan menjadi landasan akhlak generasi muda, memperkuat jati diri Pidie sebagai daerah yang religius dan berakhlak.

3. Penanganan Kelangkaan Pupuk

Salah satu jeritan lama para petani akan dijawab dengan langkah konkret: memastikan ketersediaan pupuk sesuai HET melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan distributor. Ketahanan pangan harus dimulai dari keberpihakan kepada petani kecil.

4. Penyusunan RPJMD 2025–2029 yang Partisipatif

Perencanaan bukan hanya urusan teknis, tetapi proses kebersamaan. RPJMD disusun tidak dari balik meja, tapi dari suara rakyat di lapangan. Karena pembangunan bukan sekadar angka, tapi harapan.

5. Dukungan terhadap Program Nasional

Mulai dari peningkatan SDM, pengentasan kemiskinan, infrastruktur, hingga makanan bergizi gratis, semuanya diselaraskan agar Pidie sejalan dengan arah pembangunan nasional.

Namun Sarjani dan Al-Zaizi sadar: program saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah semangat baru.

Di balik megahnya nama Pidie, masih banyak cerita yang tertinggal. Seorang petani menatap langit, bertanya mengapa pupuk tak juga sampai. Seorang anak di pelosok menulis mimpi-mimpinya di halaman buku yang sudah lecek. Seorang ibu di puskesmas menunggu obat untuk bayinya, sementara seorang pegawai menumpuk laporan yang tak pernah dibaca.

Pidie bukan tidak punya potensi. Lahan ini subur. Lautnya luas. Gunungnya bijak. Manusianya cerdas. Tapi seperti benih yang ditanam di tanah gersang, potensi tak akan tumbuh jika tak dirawat dengan sungguh-sungguh.

Saatnya kita membalik halaman. Menulis babak baru.

Pidie harus tumbuh dari dalam. Dari guru yang tak menyerah. Dari perawat di pedalaman. Dari ASN yang jujur. Dari pemimpin yang berjalan bersama rakyat, bukan berdiri di atas panggung. Dari setiap warga yang percaya bahwa rumah ini masih bisa indah kembali.

Mari kita bangun kembali rumah ini. Dengan niat yang tulus, kerja keras yang ikhlas, dan semangat yang tidak mudah lelah.

Karena Pidie adalah rumah.
Dan rumah ini… pantas untuk diperjuangkan.
Untuk kita. Untuk anak-anak kita. Untuk masa depan yang lebih bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *