Pidie Jaya,mataelangindonesia.com – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-37 tingkat Provinsi Aceh resmi akan digelar di Kabupaten Pidie Jaya, dengan partisipasi mencapai 1.986 kafilah yang terdiri dari peserta, pelatih, dan official dari seluruh 23 kabupaten/kota di Aceh. Acara yang menjadi puncak syiar Al-Qur’an di tanah rencong ini diprediksi menjadi yang terbesar dan paling meriah sepanjang sejarah, mengusung semangat persatuan, keunggulan, dan pendalaman nilai-nilai Islam.
Penyambutan Adat dan Persiapan Matang untuk Tamu Kehormatan
Menyambut ribuan tamu kehormatan, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah menyiapkan prosesi penyambutan yang khidmat dan bernuansa adat. Seluruh kafilah dijadwalkan tiba pada 30–31 Oktober 2025, dan akan disambut secara simbolis melalui tradisi peusijuek—ritual adat Aceh yang bermakna doa keselamatan, ketenteraman, dan kehormatan—di dua lokasi utama: Pendopo Bupati dan Pendopo Wakil Bupati Pidie Jaya.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setdakab Pidie Jaya, M. Riza Andika, S.Sos, M.Si, menegaskan bahwa semua aspek logistik dan protokol telah disusun secara sistematis. “Kami tidak hanya menyambut dengan adat, tetapi juga memastikan seluruh kebutuhan peserta, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga keamanan, terselenggara dengan baik,” ujarnya.
8 Cabang Utama dengan Puluhan Kategori, dari Tilawah hingga Karya Tulis Ilmiah
MTQ ke-37 ini menampilkan delapan cabang lomba utama yang mencakup puluhan kategori, dirancang untuk menjaring bakat terbaik di berbagai bidang keilmuan dan seni Al-Qur’an. Cabang-cabang tersebut meliputi:
1. Tilawah Al-Qur’an – Seni baca Qur’an dengan lagu dan tajwid terbaik.
2. Tahfizh Al-Qur’an – Hafalan 1–30 juz, yang menjadi tolok ukur kedalaman spiritual dan disiplin peserta.
3. Tafsir Al-Qur’an – Dilombakan dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia, menunjukkan relevansi Qur’an di kancah global.
4. Fahmil dan Syarhil Qur’an – Pemahaman dan penyampaian pesan Qur’an secara komprehensif.
5. Khattil Qur’an (Kaligrafi) – Ekspresi seni visual yang memadukan estetika dan makna suci.
6. Qira’at Sab’ah – Lomba membaca Qur’an dengan tujuh riwayat imam qira’at.
7. Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) – Inovasi pemikiran berbasis Qur’an untuk generasi intelektual muslim.
8. Cabang Khusus Tuna Netra – Wujud inklusivitas dan kesetaraan dalam syiar Islam.
Seluruh peserta terbagi dalam tiga kelompok usia: anak-anak, remaja, dan dewasa, baik putra maupun putri. Mereka tidak hanya berlomba, tetapi juga menunjukkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan.
Bukan Hanya Kompetisi, Tapi Ajang Mempererat Ukhuwah dan Meneguhkan Identitas Islami
Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, M.A., menyampaikan kebanggaannya atas antusiasme luar biasa dari seluruh daerah. “Ini bukan sekadar kompetisi. Ini adalah momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiah, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan nilai-nilai Al-Qur’an di Bumi Serambi Mekkah,” tegas Bupati.
Dia juga menekankan bahwa kehadiran ribuan peserta dan official, ditambah ribuan penonton yang diperkirakan memadati venue lomba, akan menciptakan atmosfer spiritual dan kebersamaan yang langka. “Kami ingin MTQ kali ini dikenang sebagai perhelatan yang tak hanya spektakuler, tetapi juga penuh makna,” imbuhnya.
Dampak Sosial dan Spiritual: Membangkitkan Ghirah Keislaman Generasi Muda
Dengan jumlah peserta hampir dua ribu orang, MTQ ke-37 Aceh tidak hanya menjadi ajang adu prestasi, tetapi juga wahana pembinaan karakter dan identitas keislaman generasi muda. Melalui lomba-lomba yang digelar, diharapkan lahir penghafal, penafsir, dan dai-dai yang mampu membawa misi Qur’an ke tengah masyarakat.
Selain itu, aspek ekonomi dan budaya juga turut terdongkrak dengan hadirnya ribuan orang dari berbagai penjuru Aceh. Berbagai venue lomba telah disiapkan secara profesional, termasuk arena terbuka yang dapat diakses masyarakat umum.
Penutup: Menanti MTQ Paling Semarak dan Inklusif di Bumi Aceh
MTQ ke-37 Aceh di Pidie Jaya diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam pelaksanaan syiar Qur’an—semarak, inklusif, dan penuh persaudaraan. Semua mata tertuju ke Pidie Jaya, menanti lahirnya para juara yang tidak hanya unggul di panggung lomba, tetapi juga menjadi penjaga dan penebar cahaya Al-Qur’an di tengah umat.(CM Cek Mad)

