Oleh : Teuku Saifuddin Alba

Sudah berbulan-bulan sejak banjir bandang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Aceh. Namun hingga hari ini, penderitaan warga belum juga berakhir. Lumpur masih menumpuk di dalam rumah, perabotan rusak belum tergantikan, dan banyak keluarga masih hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ini bukan cerita lama—ini kenyataan yang masih berlangsung.
Ironisnya, di saat rakyat masih bergelut dengan derita, justru muncul laporan yang menyebutkan bahwa kondisi sudah “baik-baik saja.” Pernyataan ini bukan hanya keliru—ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran. Bagaimana mungkin penderitaan yang begitu nyata bisa dihapus hanya dengan kalimat yang menenangkan di atas kertas?
Oknum pejabat yang menyampaikan laporan seperti ini patut dipertanyakan integritasnya. Apakah mereka benar-benar turun ke lapangan? Atau hanya sibuk menyusun narasi yang menyenangkan atasan?
Kebenaran tidak bisa ditutup-tutupi. Warga di beberapa kabupaten di Aceh masih berjuang setiap hari—membersihkan lumpur, memperbaiki rumah seadanya, dan bertahan tanpa kepastian bantuan yang dijanjikan. Ini bukan sekadar kelalaian birokrasi, ini adalah kegagalan moral.
Di tengah situasi ini, rakyat menunggu tindakan nyata dari Prabowo Subianto. Sebagai Presiden Republik Indonesia, beliau tidak boleh hanya menerima laporan sepihak. Negara tidak boleh bekerja berdasarkan asumsi yang dipoles rapi, sementara rakyatnya menderita diam-diam.
Jika laporan yang sampai ke Istana tidak sesuai fakta, maka itu adalah masalah serius yang harus segera dibongkar. Jangan sampai penderitaan rakyat dikorbankan demi menjaga citra segelintir pejabat.
Sudah saatnya Presiden turun langsung ke lokasi, melihat dengan mata kepala sendiri, dan mendengar langsung jeritan warga. Karena hanya dengan itu, kebenaran akan terlihat tanpa rekayasa.
Aceh tidak butuh kata-kata manis. Rakyat tidak butuh janji kosong. Yang mereka butuhkan adalah kejujuran, kehadiran, dan tindakan nyata.
Jika pemerintah masih memilih menutup mata, maka satu hal yang pasti: luka ini tidak hanya akan membekas di tanah Aceh, tetapi juga di hati rakyat yang merasa ditinggalkan oleh negaranya sendiri

Penulis adalah Kabiro Mataelangindonesia.com Kabupaten Aceh Utara & Kota Lhokseumawe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *