IMG-20261013-WA0047

CIMAHI, Mataelangindonesia.com – Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, secara resmi membuka Asih Putera Festival Orthea (APFest) ke-7, ajang kompetisi antarpelajar yang digelar di Kota Cimahi, Senin (12/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana menekankan pentingnya sportivitas, pengendalian emosi, dan menjaga persaudaraan dalam setiap kompetisi.

Menurut Ngatiyana, festival olahraga dan pendidikan bukan sekadar ajang untuk memperebutkan kemenangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan karakter, pengembangan prestasi, serta mempererat hubungan antarpelajar.

Dalam sambutannya, ia mengingatkan para peserta agar menerima hasil pertandingan dengan lapang dada, baik ketika menang maupun kalah. Baginya, sikap sportif dan kemampuan menghargai lawan merupakan nilai penting yang harus ditanamkan sejak usia sekolah.

“Kalau kalah ya akui kalah, yang menang jangan sombong. Akuilah prestasi orang lain yang memenangkan pertandingan. Jangan mencari-cari kesalahan atau alasan. Kalau saat ini kita kalah, berarti prestasi kita memang belum gemilang,” tegas Ngatiyana.

Ia meminta seluruh peserta menjadikan APFest sebagai momentum mempererat silaturahmi, bukan sebagai ajang persaingan yang berujung pada perselisihan.

Ngatiyana juga mengingatkan bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama para pelajar. Prestasi di bidang olahraga, menurutnya, merupakan nilai tambah yang dapat mendukung perkembangan siswa, terutama dalam menjaga kesehatan, kebugaran, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama.

“Tujuan utamanya adalah menuntut ilmu dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Olahraga merupakan prestasi tambahan yang mendukung pendidikan agar tubuh tetap sehat dan bugar dalam mengikuti proses belajar,” ujarnya.

Ingatkan Pelajar Kendalikan Emosi
Selain menekankan sportivitas, Ngatiyana secara khusus mengingatkan para pemain agar mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan pertandingan.

Ia menilai kondisi fisik yang lelah, persaingan ketat, maupun keputusan di lapangan tidak boleh menjadi alasan bagi pemain untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain.

“Saya harapkan anak-anakku yang masih muda harus bisa mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Secapek apa pun, ingatlah bahwa lawanmu itu adalah teman, lawanmu itu adalah saudaramu. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa lawan di lapangan bukanlah musuh dalam kehidupan. Karena itu, setiap pemain diharapkan mampu menerima hasil pertandingan secara dewasa, menghormati sesama peserta, dan menjaga hubungan baik meskipun timnya tidak meraih kemenangan.

Menurutnya, keberhasilan sebuah festival olahraga tidak hanya diukur dari hasil akhir pertandingan, tetapi juga dari kemampuan seluruh peserta menjaga ketertiban, menghargai sesama, dan menunjukkan kedewasaan dalam berkompetisi.

Dorong Generasi Muda Siap Menghadapi Perubahan Zaman
Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana turut memotivasi para pelajar agar mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia menyampaikan bahwa peluang masa depan tidak terbatas pada profesi sebagai aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI, maupun Polri. Generasi muda memiliki beragam pilihan untuk membangun masa depan melalui kemampuan, inovasi, kreativitas, dan pengembangan bakat, termasuk di bidang olahraga.
Ngatiyana juga mengenang pengalamannya berlatih sepak bola pada masa lalu. Ketika itu, fasilitas olahraga masih terbatas dan lapangan yang memadai sulit ditemukan. Latihan bahkan dilakukan di area persawahan atau kebun dengan menggunakan bola plastik.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembentukan mental, daya tahan, dan semangat dalam menghadapi tantangan.

Melalui APFest, ia berharap para pelajar di Kota Cimahi dapat mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter yang disiplin, tangguh, dan menjunjung tinggi persaudaraan.

“Menang bukan alasan untuk merendahkan lawan, dan kalah bukan alasan untuk memicu keributan,” pungkasnya.

APFest ke-7 Hadirkan Empat Cabang Lomba

Sementara itu, Asih Putera Festival (APFest) ke-7 tahun ini menghadirkan variasi kompetisi yang lebih beragam.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang berfokus pada cabang olahraga dan kepramukaan, penyelenggaraan kali ini mempertandingkan empat cabang lomba, yakni futsal, Pramuka, short movie atau film pendek, serta olimpiade.

Sekretaris Panitia APFest ke-7, Huria Syahla, menjelaskan bahwa sasaran utama kegiatan tersebut adalah pelajar tingkat SMP, meskipun beberapa kategori perlombaan juga dibuka untuk siswa SMA atau sederajat.

“Secara umum target peserta kita adalah jenjang SMP, namun beberapa cabang lomba juga ada yang ditargetkan untuk tingkat SMA sederajat,” ujar siswi kelas XII tersebut saat diwawancarai di lokasi acara.

Huria menambahkan, APFest tidak hanya dirancang sebagai ajang kompetisi, tetapi juga diharapkan memberikan dampak positif bagi panitia maupun seluruh peserta.
Selain itu, festival ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan lingkungan dan karakter siswa-siswi As-Syifa Putra kepada masyarakat luas.

“Harapan utamanya tentu kegiatan ini bisa memberikan dampak positif bagi semua. Selain itu, semoga teman-teman peserta bisa lebih mengenal bagaimana lingkungan dan kepribadian siswa-siswi As-Syifa Putra sebenarnya,” pungkas Huria.

Melalui penyelenggaraan APFest ke-7, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik maupun nonakademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, menjunjung sportivitas, dan mampu menjaga persaudaraan di tengah persaingan.

(Riani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *