mata elang Indonesia com
Meureudu – Langit Gampong Mesjid Tuha masih gelap ketika suara panggilan subuh mulai berkumandang dari pengeras suara Masjid Baitussattar. Namun, kegelapan itu segera sirna oleh cahaya lampu masjid dan keramaian langkah kaki jamaah yang mulai berdatangan sejak pukul 04.30 WIB. Jumat (05/06/2026), Masjid Baitussattar kembali menjadi saksi pelaksanaan kegiatan rutin Subuh Jumat Berkah yang telah menjadi agenda tetap warga setempat.

Berbeda dari biasanya, pagi itu masjid berkapasitas sekitar 500 orang terlihat penuh sesak. Bahkan, sebagian jamaah rela duduk di serambi dan teras masjid, membawa sajadah sendiri, demi tak ingin ketinggalan keberkahan subuh. Dari anak-anak hingga kakek-kakek, dari pedagang pasar hingga aparatur desa, semua tampak khusyuk menanti rangkaian ibadah.

Persiapan Matang di Balik Layar

Kesuksesan acara ini tak lepas dari peran Iskandar Idris, koordinator kegiatan yang telah mempersiapkan segalanya sejak dua hari sebelumnya. Mulai dari pengeras suara, alokasi tempat wudu, hingga pembagian takjil ringan usai salat—semua diatur dengan rapi. Dibantu belasan pemuda masjid, Iskandar mengaku sempat waswas dengan prediksi cuaca, namun hujan tidak turun, seolah menjadi pertanda baik.

“Kami sengaja menyiapkan karpet tambahan dan kipas angin portable karena subuh mulai terasa gerah. Alhamdulillah, jamaah merasa nyaman,” ujar Iskandar di sela-sela memantau jalannya acara. Ia juga mengungkapkan bahwa antusiasme kali ini meningkat 30% dibanding bulan lalu, diduga karena nama besar penceramah tamu yang sudah tersiar dari mulut ke mulut.

Dai Pakistan yang Menyentuh Kalbu

Sesaat setelah salat subuh berjamaah yang dipimpin imam setempat, suasana hening seketika. Semua mata tertuju pada seorang pria berkulit sawo matang, berjenggot rapi, dengan sorban putih khas Pakistan—Dr. Mohammad Naim, yang tengah duduk di mimbar. Ia memulai dengan senyum dan salam hangat dalam bahasa Arab, kemudian beralih ke bahasa Indonesia yang fasih, meski masih terdengar logat khas Asia Selatan.

“Saudara-saudaraku, mengapa kita datang ke masjid? Apakah hanya karena takut neraka? Atau karena ingin dipuji orang?” tanyanya membuka kultum.

Tiba-tiba hening. Beberapa jamaah menunduk.

Dr. Naim kemudian mengupas makna keikhlasan dengan kisah seorang sahabat Nabi yang menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kiri tak tahu apa yang diberikan tangan kanan. Suaranya naik turun, kadang berbisik, kadang tegas. Ketika ia mencontohkan bagaimana seorang ibu yang setiap subuh membangunkan anaknya untuk salat tanpa lelah, tanpa pamrih, beberapa jamaah perempuan terlihat menyeka air mata.

“Ibadah individu itu penting, tapi jangan sampai kita lupa pada sesama. Masjid jangan hanya rame saat subuh atau Jumat, lalu ditinggal kosong. Masjid harus menjadi pusat peradaban, tempat lahirnya generasi berakhlak mulia, tempat orang miskin mendapat bantuan, tempat anak muda belajar dakwah,” pesannya menggelegar.

Ia juga menyoroti kondisi umat Islam global yang tengah diuji perpecahan dan kepedulian sosial yang memudar. “Lihat saudara kita di Palestina, di Kashmir, di Afghanistan. Apakah kita hanya bisa menghela napas? Mari mulai dari lingkungan sendiri: jenguk tetangga sakit, bantu yang kesulitan, jaga lisan dari ghibah. Itu jihad sesungguhnya.”

Ceramah yang berlangsung sekitar 25 menit itu ditutup dengan doa panjang, di mana Dr. Naim menangis tersedu-sedu saat memohon ampunan untuk umat Islam seluruh dunia. Hampir seluruh jamaah mengamininya dengan suara lirih, dan masjid seketika terasa begitu syahdu.

Respons Jamaah: Antusias dan Berharap Istiqamah

Seusai doa, suasana berubah menjadi hangat. Jamaah saling bersalaman, berangkulan, dan berbagi senyum. Sebagian mengelilingi Dr. Naim untuk berfoto bersama atau sekadar bersalaman dan meminta nasihat singkat.

Salah seorang jamaah, M. Nur (50 tahun), pedagang di Pasar Meureudu, mengaku baru pertama kali mendengar tausiyah sedalam itu. “Saya biasa cuma salat subuh lalu cepat-cepat pulang buka lapak. Tadi saya benar-benar merasa diingatkan. Saya berjanji akan lebih ikhlas dalam berdagang, tidak curang timbangan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, jamaah lainnya, mengatakan bahwa pesan tentang masjid sebagai pusat peradaban sangat relevan. “Selama ini masjid kami lebih banyak digunakan salat saja. Usai subuh, anak-anak muda langsung pulas lagi di rumah. Saya terpikir untuk menginisiasi pengajian remaja subuh setelah kegiatan ini,” tuturnya bersemangat.

Iskandar Idris di akhir acara menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, termasuk DKM Masjid Baitussattar dan para donatur yang menyediakan santapan ringan usai kultum. “Kami targetkan kegiatan ini terus berlangsung setiap Jumat, bahkan akan kami tambah dengan sesi konsultasi keagamaan gratis seusai subuh,” janjinya.

Makna Lebih dari Sekadar Rutinitas

Subuh Jumat Berkah di Masjid Baitussattar bukanlah sekadar acara seremonial. Ia menjadi titik temu antara spiritualitas dan aksi sosial. Di sela-sela acara, panitia juga membuka kotak infaq yang hasilnya akan disalurkan kepada 10 keluarga kurang mampu di sekitar gampong. Ada pula stan sederhana penjualan buku-buku keislaman dan jilbab murah yang sebagian keuntungannya untuk renovasi masjid.

Bagi warga Gampong Mesjid Tuha, subuh Jumat itu tidak hanya memberi bekal iman, tetapi juga energi positif untuk memulai hari. Seperti diungkap Teungku Bahruddin, imam masjid setempat: “Kami ingin subuh Jumat tidak hanya ramai karena penceramah luar biasa. Kami ingin subuh Jumat menjadi gerbang perubahan. Semoga Allah istiqamahkan hati kami.”

Ketika matahari mulai menyembul di ufuk timur, para jamaah meninggalkan masjid dengan senyum teduh. Anak-anak berlarian memegang bingkisan roti, para ibu menggendong anak bungsu yang tertidur pulas, dan para lelaki bergegas ke tempat kerja masing-masing. Namun satu hal terasa jelas: Subuh Jumat Berkah telah meninggalkan jejak yang tak akan mudah pudar.
(CM Cek Mad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *