mediamataelangindonesia.com — Senin, 21 April 2025 |
Di tengah masyarakat yang semakin mengagungkan gelar akademik, sebuah tulisan reflektif dari Teuku Saifuddin Alba berjudul “Ketika Adab Lebih Tinggi dari Ilmu” mengajak pembaca untuk meninjau ulang nilai sejati dari seseorang. Menurutnya, pendidikan tinggi bukanlah satu-satunya ukuran kemuliaan pribadi—karakter dan adab jauh lebih utama.
“Gelar sarjana memang membanggakan, tapi sopan santun dan adab adalah mahkota yang tak bisa dibeli oleh ijazah,” tulis Saifuddin dalam opininya yang kini ramai dibicarakan warganet.
Ia menyoroti fenomena sosial di mana banyak orang berpendidikan tinggi namun kehilangan kepekaan dalam bersikap, bahkan terhadap orangtua sendiri. Di sisi lain, mereka yang tak tamat sekolah justru mampu menunjukkan tutur kata yang lembut, perilaku yang santun, dan hati yang penuh kasih.
Dalam budaya Arab, lanjutnya, adab atau al-adab selalu ditempatkan sebagai dasar sebelum ilmu. Bahkan Rasulullah SAW lebih dahulu menanamkan akhlak mulia sebelum menyampaikan syariat.
“Bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun akan lebih dihargai daripada bangsa yang hanya mengandalkan pencapaian akademik,” tambahnya.
Melalui tulisannya, Saifuddin mengajak masyarakat merenung: siapa yang lebih dikenang—mereka yang berilmu tinggi namun arogan, atau mereka yang sederhana tapi penuh budi pekerti?
“Dunia butuh lebih banyak orang sopan daripada sekadar orang pintar,” tutupnya. Sebuah pesan yang sederhana namun dalam, bahwa ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab menjadikan ilmu penuh berkah dan manfaat bagi sesama.
