IMG-20250521-WA0255

Mediamataelangindonesia.com
Sabang – Rabu 21 Mei 2025- Di tengah denyut kehidupan Kota Sabang, berdiri kokoh sebuah titik persimpangan yang tak hanya menghubungkan jalan, tetapi juga merekatkan sejarah, semangat, dan identitas warganya: Simpang Garuda.

Persimpangan ikonik yang terletak di jantung Pulau Weh ini bukanlah sekadar bundaran biasa. Ia menyimpan jejak perjuangan masyarakat Sabang, terutama sejak berakhirnya status Free Port pada 1980-an yang sempat melumpuhkan roda ekonomi kota pelabuhan ini. Penutupan pelabuhan bebas Sabang dan pemindahan aktivitas ke Batam kala itu menjadi pukulan berat bagi warga.

Namun dari keterpurukan itu, harapan tumbuh. Di kawasan yang dulu dikenal dengan sebutan “Bundaran Sabang Merauke”, muncul nama baru: Simpang Garuda. Nama ini merujuk pada warung kopi legendaris “Garuda Utama” yang menjadi titik kumpul masyarakat sekitar. Seiring waktu, nama Simpang Garuda lebih dikenal dan diakui secara luas.

Yang tak kalah penting, di lokasi ini dahulu berdiri sebuah tugu dengan tulisan berbahasa Aceh: “Peutek Patah, Teurawah Meugantoe”. Kalimat ini berarti “Batang pepaya yang patah, digantikan oleh pohon Teurawah yang lebih kuat dan kokoh.” Filosofi ini diciptakan oleh Abu Ibrahim Su’ud, tokoh agama dan pemuka masyarakat, sebagai pesan kebangkitan bagi masyarakat Sabang yang tengah menghadapi masa sulit akibat anjloknya harga cengkeh dan rusaknya perkebunan.

Pada tahun 2021, Pemerintah Kota Sabang melakukan transformasi besar-besaran terhadap tugu di Simpang Garuda. Desain baru yang megah menyerupai Rencong Aceh kini menjadi penanda baru, namun tetap mempertahankan nilai filosofis dan nama lamanya. Perubahan ini merupakan bagian dari upaya menjadikan Simpang Garuda sebagai ikon wisata dan identitas visual kota.

Lebih dari sekadar tugu dan nama, Simpang Garuda telah menjadi ruang kolektif warga Sabang. Persimpangan ini kerap menjadi lokasi berbagai aktivitas sosial, termasuk unjuk rasa damai seperti aksi solidaritas terhadap etnis Rohingya.

Kini, Simpang Garuda berdiri sebagai simbol ketahanan, transformasi, dan semangat pantang menyerah masyarakat Sabang. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah kota ujung barat Indonesia, sekaligus mercusuar harapan menuju masa depan yang lebih baik.

Demikian Laporan Mei Sabang Dari Rilis Abang Muhammad Sabang Ke Kabiro-Mj Eric Novi Karno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *