Bukit Ceurana, Bireuen – Setelah melalui perjuangan panjang selama 15 tahun, masyarakat pemukiman transmigrasi Bukit Ceurana, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, akhirnya bisa melaksanakan Shalat Jumat secara resmi di tanah mereka. Momen bersejarah ini menjadi semakin bermakna setelah Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh mengeluarkan surat keputusan yang memperjelas status hukum pelaksanaan ibadah Jumat di lokasi tersebut.
Hari ini, Jumat (4/7/2025), puluhan warga dengan penuh suka cita memadati musala kecil di Bukit Ceurana, yang untuk sementara dijadikan tempat shalat. Karena tak cukup menampung jamaah, sebagian besar jamaah terpaksa melaksanakan shalat di luar dengan alas tikar. Namun, hal itu tidak mengurangi kekhidmatan dan kebahagiaan mereka, yang selama satu setengah dekade berjuang untuk mendapatkan hak beribadah secara berjamaah di tanah transmigrasi mereka.
Peletakan Batu Pertama Masjid
Momen spesial ini semakin lengkap dengan dilakukannya peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jabal Rahmah sehari sebelumnya (Kamis, 3/7/2025). Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh ulama kharismatik Aceh, Abu Tanjong Bungong, yang memberikan doa dan semangat kepada masyarakat setempat. Nama “Jabal Rahmah” dipilih sebagai simbol kasih sayang dan perjuangan, mengingat perjalanan panjang masyarakat untuk memiliki rumah ibadah yang layak.
Khutbah Jumat Penuh Makna
Shalat Jumat perdana di Bukit Ceurana ini diimami oleh Penjabat MPU Kabupaten Bireuen, Tgk. Saifuddin Muhammad, S.H.I., M.H., yang sekaligus bertindak sebagai khatib. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan pesan tentang semangat Hijrah di tahun baru Islam, mengisahkan perjuangan Rasulullah SAW saat pertama kali tiba di Madinah, di mana hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid dan menyelenggarakan Shalat Jumat.
“Seperti Rasulullah membangun Masjid Quba dan mendirikan shalat Jumat di Madinah, kita hari ini juga sedang menorehkan sejarah baru di Bukit Ceurana. Ini bukan sekadar tentang bangunan, tapi tentang persatuan, ketakwaan, dan perjuangan,” ujar Tgk. Saifuddin dalam khutbahnya.
Dukungan dari Tokoh Masyarakat
Bang Sanjay, salah satu tokoh masyarakat yang turut menyaksikan langsung peristiwa bersejarah ini, mengungkapkan rasa harunya melalui pesan singkat: “Melalui momen ini, saya berharap kita semua bersatu dalam satu semangat: membangun masjid, membangun peradaban.”
Kini, masyarakat Bukit Ceurana berharap pembangunan Masjid Jabal Rahmah dapat segera terlaksana dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan donatur. Mereka bertekad menjadikan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pemersatu umat di tengah pemukiman transmigrasi yang terus berkembang.
Langkah Awal Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Ke depan, MPU Aceh dan pemerintah setempat akan terus memantau perkembangan pembangunan masjid serta kebutuhan rohani masyarakat di kawasan tersebut. Dengan adanya legalitas resmi dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan Bukit Ceurana akan menjadi contoh harmonisasi antara program transmigrasi dan kehidupan beragama yang kuat di Aceh.
*”Ini baru awal. Perjuangan kita belum selesai sampai masjid ini berdiri megah,”* pungkas salah seorang warga penuh semangat.
Cek Mad
