motion_photo_715555862859081032

GORONTALO, Mediamataelangindonesia.com– Di tengah hiruk-pikuk ajang Petani dan Nelayan Andalan (Penas) Ke-XVI di Gorontalo, suara petani dari ujung barat Indonesia terdengar lantang. Delegasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pidie Jaya, yang dipimpin langsung oleh Sekretarisnya Muhammad (Cek Mad) beserta jajaran pengurus Bahagia, T. Zulkifli, Mahathir dan Teuku Edi, serta Plt. Kadis Pertanian M.Nur Isga,SP. M.Si, tidak hanya hadir sebagai peserta. Mereka datang dengan misi spesifik: memastikan nasib lahan pertanian mereka yang porak-poranda akibat bencana tidak dilupakan negara.

Kehadiran mereka di Aula Universitas Gorontalo, tempat berlangsungnya rangkaian acara Penas, berbuah manis. Di sela-sela diskusi penguatan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dan Swasembada Pangan Berkelanjutan, rombongan Pidie Jaya berhasil menyita perhatian Wakil Menteri Pertanian RI, Dr. H. Sudarsono.

Momen Emas di Tengah Gelar Teknologi

Acara yang berlangsung dari 20 hingga 25 Juni 2026 itu memang menjadi ruang temu paling strategis bagi pemangku kepentingan pertanian nasional. Namun, bagi Teuku Edi—yang juga berprofesi sebagai Penyuluh Pertanian lapangan—ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Begitu mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan Wamentan, ia langsung menyampaikan aspirasi paling mendesak dari para petani Pidie Jaya.

“Kami datang bukan hanya untuk belajar teknologi, Pak. Kami datang membawa beban petani yang sawahnya hancur diterjang banjir bandang 26 November lalu. Kami mohon percepatan rehabilitasi,” ujar Teuku Edi kepada Wamentan, didampingi rekannya sesama pengurus KTNA.

Janji Wamentan: Dana Siap, Gubernur dan Bupati Dimobilisasi

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pertanian Dr. H. Sudarsono memberikan respons yang menggembirakan. Ia menyatakan bahwa pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran khusus untuk perbaikan infrastruktur pertanian di daerah terdampak bencana, termasuk Pidie Jaya.

“Tahun lalu kita fokus pada sawah baru (CSR), tapi kita tidak melupakan sawah eksisting yang rusak. Saya janjikan, dana untuk rehab berat di Pidie Jaya sudah kami siapkan. Segera ini akan kami turunkan melalui koordinasi dengan Bapak Gubernur dan Bupati setempat. Saya minta KTNA dan para petani di sana ikut mengawal realisasinya di lapangan,” tegas Wamentan dengan nada serius.

Janji ini sekaligus menegaskan bahwa program pemerintah tidak hanya ekspansif menambah lahan baru, tetapi juga responsif terhadap bencana yang mengancam produksi pangan.

Dalam arahannya di hadapan para peserta, Wamentan juga mengingatkan agar semua pihak tidak terjebak dalam ekspektasi instan terhadap program Cetak Sawah Rakyat. Ia menjelaskan bahwa membuka lahan rawa menjadi sawah produktif membutuhkan proses yang panjang, terutama dalam hal tata kelola air dan pembentukan struktur tanah.

“Jangan bayangkan cetak sawah hari ini, besok langsung ditanam dan panen 5 ton. Ini butuh proses bertahap. CSR adalah investasi jangka panjang untuk ketahanan pangan kita menghadapi pertumbuhan penduduk dan dinamika global,” jelasnya.

Pernyataan ini sejalan dengan arahan Presiden yang ingin menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, namun dengan fondasi pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan terencana.

Semangat Aceh Menggema di Gorontalo

Keberhasilan delegasi Pidie Jaya menyampaikan aspirasi hingga ke tingkat menteri menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan organisasi petani seperti KTNA berjalan efektif. Dalam kesempatan tersebut, rombongan juga aktif mengikuti berbagai rangkaian acara Penas, mulai dari Temu Karya, Gelar Teknologi Alat Mesin Pertanian (Alsintan), hingga pameran inovasi di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.

Muhammad (Cek Mad) selaku Sekretaris KTNA Pidie Jaya menyatakan bahwa mereka akan segera menyusun tim monitoring untuk memastikan realisasi bantuan rehabilitasi berjalan tepat sasaran. Juga Cek Mad selalu berkomunikasi dengan KTNA Propinsi Aceh baik dengan Ketuanya Bapak Samidan, S.Pd dan sekretaris Bapak Junaidi.

“Ini bukan sekadar seremonial. Kami akan pulang dengan membawa semangat baru dan janji yang harus kami kawal. Petani Aceh tetap berdiri di garda depan untuk mendukung swasembada pangan nasional,” pungkasnya.

Pewarta: CM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *