
Oleh: Muhammad M. Piah (CM)
Wartawan Mata Elang Indonesia di Pidie Jaya
Sebuah Ujian di Bawah Sorotan
Kabut pagi di Meuligoe Serambi Mekah seolah menyelimuti sebuah kecemasan yang terpendam. Beberapa pekan sebelum hajat akbar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Aceh ke-37 digelar pada 1-7 November 2025, desas-desus negatif bergema seperti gaung yang mengganggu. Isu ketidaksiapan venue hingga kaburnya Event Organizer (EO) sempat menjadi momok yang mengancam wajah Pidie Jaya di panggung provinsi. Banyak yang bertanya-tanya, akankah Pidie Jaya gagal di hadapan mata 23 kabupaten/kota?
Namun, pertanyaan itu terjawab sudah. Dengan dibukanya gelaran oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dan ditutup secara khidmat oleh Wakil Gubernur, Fadlullah, dalam cuaca yang bersahabat, seluruh keraguan itu terlampiaskan menjadi sebuah kekaguman. Apa yang terjadi di Pidie Jaya bukan sekadar penyelenggaraan sebuah event, melainkan sebuah transformasi narasi: dari yang diragukan menjadi dipuji, dari yang cemas menjadi percaya diri.
Dari Isu Menuju Ikon, Sebuah Catatan Kolaborasi Nyata
Kesuksesan ini bukanlah sebuah keajaiban yang turun dari langit. Ia adalah buah dari sebuah lompatan keyakinan dan kerja keras yang dipelopori oleh kepemimpinan yang solid. Di pundak Bapak Bupati H. Sibral Malasyi MA, S.Sos., MED. dan Bapak Wakil Bupati Hasan Basri, ST., MM., serta segenap jajaran panitia, beban itu diubah menjadi sebuah tekad bulat. Ketika satu pintu tertutup (dengan mundurnya EO), justru seratus pintu lain terbuka dengan mengandalkan kemampuan dan sinergi anak negeri sendiri.
Inilah esensi sesungguhnya dari “kerjasama yang baik” yang menjadi kunci kesuksesan. Kerjasama itu terwujud dalam setiap senyum sambutan, dalam setiap kelancaran logistik, dalam setiap venue yang akhirnya siap tepat waktu. Hasilnya? Sebuah pengakuan yang paling berharga, bukan dari piala, tetapi dari mulut ke mulut seluruh kafilah. Pengakuan atas penyambutan dan pelayanan yang “sangat menyenangkan” adalah sebuah tropi moral yang nilainya tak terhingga. Ini membuktikan bahwa Pidie Jaya tidak hanya siap secara infrastruktur, tetapi lebih penting lagi, siap secara hati.
Dan kemudian, kejutan manis itu datang. Pidie Jaya, selaku tuan rumah, tidak hanya menjadi penyelenggara yang baik, tetapi juga kontingen yang tangguh. Raihan Peringkat Ketiga Umum adalah sebuah prestasi yang melampaui ekspektasi. Peringkat ini bagai membungkus seluruh kesuksesan penyelenggaraan dengan pita prestasi, menjadikannya sebuah “kesuksesan nyata yang komprehensif.” Kita berhasil di dalam lapangan, dan sekaligus di luar lapangan.
Warisan yang Harus Dijaga, Estafet untuk Abdya
Maka, memaknai kesuksesan MTQ ke-37 ini, kita tidak boleh berpuas diri. Gelaran ini harus menjadi fondasi, bukan tujuan puncak. Semangat kolaborasi, ketangguhan menghadapi tantangan, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi tamu inilah warisan terindah yang harus kita rawat.
Opini ini ditutup dengan sebuah harapan dan tantangan. Kepada saudara-saudara kita di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang akan menjadi tuan rumah dua tahun mendatang, kami ucapkan selamat. Semoga semangat dan pelajaran dari Pidie Jaya ini dapat menjadi pemicu untuk menyelenggarakan event yang lebih meningkat lagi. Mari kita buktikan bahwa Aceh bukan hanya kaya dengan budaya dan agama, tetapi juga kaya dengan semangat gotong royong dan keramahan yang tulus dalam setiap hajat besarnya.
Kesuksesan Pidie Jaya adalah bukti bahwa ketika pemimpin dan rakyat bersinergi, segala keraguan hanya akan menjadi batu pijalan menuju puncak prestasi. Selamat untuk Pidie Jaya, sukses untuk Abdya!
(CM)
