Mediamataelangindonesiacom-Selasa, 20 Mei 2025 | Sabang, Aceh – Pulau Weh
Di ujung barat Indonesia, di bawah cahaya mentari yang menyentuh laut lepas dan di antara gemuruh ombak Pulau Weh, sebuah suara yang dulu hanya terdengar di gelombang radio kini kembali menggema—bukan lagi dari balik studio, tapi dari atas panggung, langsung di hadapan publik. Ia adalah seorang pembawa acara legendaris asal Kabupaten Pidie, yang kini menapakkan kembali langkahnya sebagai MC di Sabang, Aceh, tempat di mana Indonesia dimulai: Kilometer Nol.

Nama dan suaranya pernah begitu melekat di hati masyarakat Pidie. Di awal tahun 2000-an, ia adalah penyiar radio favorit, disegani bukan hanya karena suaranya yang khas dan membius, tapi juga karena sikapnya yang rendah hati, hangat, dan selalu membawakan setiap siaran dengan gaya yang jujur dan membumi. Dalam masa kejayaan radio lokal saat itu, ia adalah teman setia pendengar—menghibur, memberi informasi, dan menyalurkan semangat lewat gelombang udara.

Kini, lebih dari Beberapa dekade kemudian, semangat itu belum padam. Justru semakin menyala. Setelah sempat rehat dari dunia hiburan, ia kini menetap di Kota Sabang, Pulau Weh, dan kembali menapaki jalur yang dulu pernah ia cintai: dunia akting dan pembawa acara. Tidak hanya menjadi pengisi acara formal, ia juga tampil dalam berbagai event budaya, seni lokal, perayaan masyarakat, bahkan pertunjukan teater komunitas.
“Pulau ini memberi saya energi baru,” ujarnya saat ditemui usai membawakan acara Seni Sabang Musik Talent dan Kesenian Budaya Sabang,Selasa malam. “Dulu saya bersuara di balik mikrofon, sekarang saya bisa melihat senyum penonton langsung di depan mata. Rasanya luar biasa.”
Tak hanya penampilannya yang menawan, namun juga etos kerja dan semangatnya yang tak berubah sejak dulu. Ia tetap dikenal sebagai pembawa acara yang tidak neko-neko, tampil apa adanya, dan selalu mampu menciptakan kedekatan emosional dengan audiens. Ia tidak hanya membaca naskah acara, tapi menghidupkannya—membuat setiap kata terasa jujur, mengalir, dan menyentuh hati.
Kehadirannya di berbagai panggung Sabang mendapat sambutan hangat dari masyarakat. “Dulu saya sering dengar suaranya di radio waktu masih Duduk Bangku SMP Sekarang bisa lihat langsung, rasanya seperti nostalgia,” kata risna, seorang Wisatawan yang hadir dalam acara.

Lebih dari sekadar nostalgia, kembalinya sang MC juga menjadi inspirasi. Di tengah era digital dan persaingan ketat dunia hiburan, ia membuktikan bahwa keaslian, dedikasi, dan cinta terhadap profesi adalah hal yang tak tergantikan. Ia tidak mengejar sensasi, tidak menjual kontroversi. Ia hanya membawa suara yang jujur dan hadir untuk menghubungkan manusia satu sama lain.

Kini, dari tempat di mana Indonesia dimulai-Nol bawah tugu Kilometer Nol yang tegak menantang samudera—suara itu kembali terdengar. Bukan sekadar suara seorang pembawa acara, tapi suara pengalaman, semangat, dan cinta yang tak pernah padam.
Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun perjalanan hidup membawa kita, jika hati kita tetap menyala, kita akan selalu menemukan jalan pulang—dan panggung untuk bersinar kembali.
Sekilas Info MEI Sabang Kabiro-Mj Eric Novi Karno
