IMG-20251127-WA0001

Foto Wakil Bupati Pidie Jaya, Bapak Hasan Basri,Turun langsung Di Tempat Kejadian terjadinya Banjir Bandang

MEUREUDU, PIDIE JAYA – Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dilanda bencana banjir besar yang disebut-sebut sebagai yang terparah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Banjir yang menyergap sejak pukul 01.00 dini hari ini disebabkan oleh hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut selama dua hari dua malam berturut-turut tanpa henti.

 

Faktor pemicu utama adalah meluapnya beberapa sungai (krueng) utama, dengan Krueng Meureudu sebagai yang paling signifikan. Air bah dari hulu di kawasan pegunungan yang juga mengalami hujan lebat, membanjiri daratan dengan volume dan kecepatan yang luar biasa, menyapu permukiman, jalan protokol, dan lahan pertanian.

 

Banjir kali ini digambarkan oleh para pejabat setempat dan warga sebagai bencana terbesar yang pernah mereka saksikan dalam satu dekade terakhir. Dua kecamatan, Meureudu dan Meurah Dua, menjadi yang paling menderita, dengan puluhan gampong (desa) terendam air dengan ketinggian yang bervariasi, dari lutut orang dewasa hingga mencapai atap rumah.

Wakil Bupati Turun Langsung, Soroti Dampak Jangka Panjang

Menyikapi kondisi darurat ini, Wakil Bupati Pidie Jaya, Bapak Hasan Basri,

turun langsung ke lokasi terdampak untuk meninjau secara seksama. Beliau ditemui di persimpangan Gampong Meunasah Jurong, Teupin Pukat, dan Pante Beureune—sebuah titik yang strategis namun kini terputus oleh banjir di Jalan Iskandar Muda yang juga merupakan badan rel kereta api.

 

Dalam pernyataannya di tengah genangan air, Wakil Bupati Hasan Basri dengan tegas menyatakan bahwa bencana ini memerlukan bantuan dan dukungan dari semua pihak. Beliau menggarisbawahi bahwa dampak yang dirasakan warga tidak akan selesai dalam hitungan jam.

 

“Banjir besar ini perlu bantuan dan dukungan semua pihak. Yang pasti, warga akan merasakan imbasnya selama beberapa hari ke depan, bukan hanya saat ini,” ujarnya, seraya menyebutkan masalah yang akan dihadapi pasca-air surut, seperti ketersediaan dapur umum dan proses pembersihan rumah dari lumpur yang menyelimuti segala sesuatu.

Warga Bertahan di Toko-Toko, Evakuasi Dadakan dalam Kondisi Basah Kuyup

Hingga menjelang waktu shubuh, suasana mencekam masih menyelimuti wilayah terdampak. Banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Gedung-gedung toko yang letaknya lebih tinggi dari permukaan jalan menjadi tempat bertahan sementara bagi ratusan warga yang terjebak.

 

Kondisi ini diperkuat oleh kesaksian para Keuchik (Kepala Desa). Keuchik Pante Beureune, Helmi, membenarkan keseriusan situasi. “Banjir kali ini sangat parah dan datang dengan cepat. Banyak warga saya yang sama sekali tidak sempat memindahkan barang-barang berharga dan perlengkapan penting. Dalam proses pengungsian ini, yang mereka bawa hanya pakaian yang melekat di badan, dan itupun dalam keadaan basah semua,” tuturnya, menggambarkan kepanikan dan kerugian material yang dialami warganya.

 

Seruan yang sama disampaikan oleh Keuchik Gampong Meunasah Jurong, Mulyadi. Dalam kondisi darurat, ia secara khusus memohon bantuan kepada seluruh tingkat pemerintahan. “Kami di sini membutuhkan bantuan segera. Saya atas nama warga memohon kepada Pemerintah Kabupaten, Provinsi, bahkan Pemerintah Pusat untuk turun tangan. Kami butuh bantuan logistik, tempat tinggal sementara, dan dukungan untuk pemulihan pasca-banjir,” pintanya.

 

Saat ini, fokus utama masih pada upaya penyelamatan warga yang masih terisolasi oleh banjir. Tim SAR gabungan, BPBD, dan relawan telah dikerahkan, namun akses yang terbatas menjadi kendala utama. Dikhawatirkan, jika hujan terus berlanjut, kondisi akan semakin parah dan jumlah pengungsi akan terus bertambah. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. (CM)

 

Editor   : Ais Le

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *