MEURAH DUA, PIDIE JAYA – Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Dayah Najmul Kiram di Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, mengalami kerusakan parah akibat diterjang banjir bandang. Lembaga yang aktif mengajar puluhan santri sejak 2014 itu kini terpaksa berjuang memulihkan sarana prasarana yang rusak berat.
Pimpinan Dayah, Tgk. Syarifuddin (yang akrab disapa Tgk. Din), melaporkan bahwa banjir dengan ketinggian air lebih dari 2 meter telah menyapu kompleks dayah tersebut. Akibatnya, aktivitas belajar mengajar bagi 78 santri aktif terpaksa terganggu.
Kerusakan yang terjadi sangat signifikan dan meliputi berbagai aspek. Pada sarana fisik, satu unit MCK (Mandi, Cuci, Kakus) rusak parah, sehingga mengganggu kebutuhan dasar santri dan pengurus. Selain itu, dua unit balai dan satu ruang kelas (RKB) tertimbun lumpur setinggi 40 cm di bagian dalam lantainya. Sementara itu, di area halaman kompleks dayah, timbunan lumpur bahkan mencapai ketebalan 70 cm.
Tidak hanya infrastruktur, peralatan penunjang pendidikan dan administrasi juga turut menjadi korban. Sejumlah mushaf Al-Qur’an, kitab-kitab pengajian, kipas angin, bangku sandaran Al-Qur’an (rehal), tikar ambal, papan tulis, serta berbagai peralatan kantor Balai Pengajian dilaporkan rusak berat. Sebagian besar barang-barang tersebut bahkan hilang tersapu arus banjir bandang yang deras.
Tgk. Din memperkirakan total kerugian material yang diderita mencapai sekitar Rp70.000.000 (tujuh puluh juta rupiah). Angka tersebut mencakup biaya perbaikan bangunan, pembersihan lumpur, dan penggantian sarana belajar serta perlengkapan yang rusak atau hilang.
“Kondisi ini sangat menyulitkan kami untuk segera memulai kembali aktivitas pengajian seperti biasa. Kami sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari berbagai pihak untuk pemulihan,” ungkap Tgk. Din dalam laporannya yang disampaikan kepada Cek Mad dari Media ini.
Dayah LPI Najmul Kiram telah menjadi salah satu pusat pendidikan agama yang konsisten beroperasi selama hampir satu dekade di wilayah tersebut. Kerusakan ini tidak hanya menjadi pukulan bagi pengelola, tetapi juga bagi puluhan santri yang kehilangan tempat belajar dan kitab-kitab mereka.
Diharapkan, laporan ini dapat menjadi perhatian bagi pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat luas untuk turut serta memberikan dukungan dan bantuan, agar dayah dapat kembali berfungsi dan melanjutkan misi pendidikannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Editor : CM Cek Mad
