IMG-20251213-WA0060

PIDIE JAYA – Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga menghantam pusat-pusat pendidikan agama. Salah satu korban berat adalah Dayah Assafwa Al-Aziziyah yang terletak di Gampong Beuringen. Lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Tgk. Jalalussayuti ini mengalami kerusakan parah dengan estimasi kerugian material mencapai kurang lebih Rp 75.000.000.

 

Lokasi dayah yang persis berada di pinggir Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu menjadi faktor utama mengapa bangunan dan arealnya mengalami kehancuran signifikan. Saat banjir bandang melanda, air dan material lumpur dari sungai tersebut menerjang dengan kekuatan penuh, meninggalkan kondisi “porak-poranda” di seluruh area dayah.

“Kondusinya sangat memprihatinkan. Lokasi dayah kami porak-poranda. Segala aktivitas belajar mengajar lumpuh total. Kerugian material kami perkirakan berkisar lebih kurang 75 juta rupiah,” papar Tgk. Jalalussayuti, yang akrab disapa Waled Sayuti, kepada Cek Mad dari media ini.

 

Kerusakan yang dialami meliputi berbagai aspek. Bangunan tempat belajar seperti ruangan kelas dan mushalla kemungkinan besar mengalami kerusakan struktur, atap, lantai, dan dinding. Perlengkapan belajar mengajar, kitab-kitab, perabot, dan mungkin juga fasilitas pendukung seperti dapur atau asrama santri turut hanyut atau rusak tertimbun lumpur. Kerugian sebesar Rp 75 juta tersebut mencerminkan betapa parahnya dampak yang diterima oleh dayah yang menjadi salah satu tempat menuntut ilmu agama bagi puluhan bahkan ratusan santri di wilayah tersebut.

 

Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga mengganggu proses pendidikan dan pengajian ratusan santri. Mereka terpaksa menghentikan aktivitas belajar hingga kondisi dayah dapat dipulihkan. Waled Sayuti dan pengurus dayah kini dihadapkan pada tantangan berat untuk membangun kembali lembaga pendidikan mereka dari nol.

 

Bencana ini menyoroti kembali kerentanan infrastruktur penting, termasuk lembaga pendidikan, yang berlokasi dekat dengan aliran sungai. Dayah Assafwa Al-Aziziyah menjadi simbol dari puluhan dan ratusan bangunan lainnya yang ikut menjadi korban dari amukan alam tersebut.

Pemulihan dayah ini membutuhkan bantuan dan solidaritas dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga sosial, maupun masyarakat luas. Upaya rekonstruksi tidak hanya membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga memulihkan semangat belajar para santri dan pengasuh dayah yang pasti terdampak secara psikologis. Editor : CM Cek Mad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *