SIGLI –
Mediamataelangindonesia.com
Nama Sultan Iskandar Muda bukan sekadar nama dalam lembaran sejarah, melainkan simbol keberanian, kebijaksanaan, dan puncak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam. Dikenal sebagai raja terbesar yang pernah memimpin Aceh, masa pemerintahannya yang berlangsung sekitar tahun 1607 hingga 1636 Masehi menjadi masa di mana kekuasaan, pengaruh, dan kemakmuran Aceh mencapai puncaknya. Namanya terus diingat sebagai pahlawan nasional dan teladan pemimpin yang tegas namun dekat dengan rakyat dan ulama.
Sejarah mencatat bahwa Sultan Iskandar Muda memegang teguh prinsip keislaman dan adat yang luhur. Di bawah pemerintahannya, Aceh menjadi kekuatan militer dan perdagangan yang disegani di Selat Malaka, sekaligus menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan dan pendidikan agama. Beliau sangat menghormati para ulama, mendirikan banyak dayah, dan menjadikan hukum Islam sebagai landasan utama dalam mengelola negara dan kehidupan masyarakat.
👑 SULTAN ISKANDAR MUDA DAN GARIS KETURUNANNYA
Sultan Iskandar Muda lahir sekitar tahun 1591 dengan nama asli Meukuta Alam. Beliau merupakan anak dari Sultan Alauddin Mansur Syah, dan memiliki garis keturunan yang kuat dari dinasti raja-raja Aceh yang bergelar keturunan Nabi Muhammad SAW. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal tidak hanya sebagai panglima perang yang tangguh, tetapi juga pelindung agama dan pembangun peradaban.
Dari silsilah keluarga, Sultan Iskandar Muda memiliki anak dan keturunan yang kemudian melanjutkan peran penting dalam sejarah Aceh. Beliau memiliki seorang putri yang bernama Putri Sri Alam, yang kemudian dinikahkan dengan seorang pemuda cerdas dan berani bernama Malikul Zahir, yang kelak naik takhta menggantikan Iskandar Muda dengan gelar Sultan Iskandar Thani. Melalui jalur inilah, darah dan keturunan keluarga besar Sultan Iskandar Muda terus berlanjut dan tersebar ke berbagai wilayah di Aceh, termasuk ke daerah Pidie dan sekitarnya.
Setelah masa pemerintahan berakhir, keturunan dan kerabat dekat Sultan Iskandar Muda tidak lagi semuanya duduk di singgasana kerajaan, namun banyak dari mereka memilih jalan kehidupan untuk mendalami ilmu agama, menjadi ulama, guru, dan tokoh masyarakat. Hal ini sejalan dengan pesan yang ditinggalkan Sultan Iskandar Muda sendiri, bahwa kemuliaan tidak hanya diukur dari kekuasaan, melainkan dari ilmu dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dari generasi ke generasi, keluarga keturunan Sultan Iskandar Muda kemudian menetap di berbagai daerah, berbaur dengan masyarakat, membuka dayah, dan mengajarkan ilmu agama. Wilayah Pidie yang dikenal sebagai daerah yang sangat kuat dalam tradisi keilmuan Islam, menjadi salah satu tempat yang banyak dihuni oleh para keturunan dan penerus semangat perjuangan serta ilmu yang diwariskan oleh keluarga kerajaan Aceh tersebut.
🕌 HUBUNGAN SEJARAH DENGAN TGK CHIK DI REUBEE
Salah satu tokoh besar yang memiliki hubungan erat, baik dari segi sejarah, garis pemikiran, maupun silsilah keturunan dan penerus perjuangan luhur itu adalah Tgk Chik Di Reubee. Nama beliau sangat masyhur di kalangan masyarakat Pidie dan Aceh pada umumnya sebagai ulama besar, pendiri dayah, tokoh pendidik, dan panutan kehidupan beragama.
Secara sejarah, hubungan antara Sultan Iskandar Muda dan Tgk Chik Di Reubee bukan dalam arti hubungan bapak dan anak secara langsung, melainkan hubungan keberlanjutan perjuangan, garis keturunan, dan penerus nilai-nilai yang ditanamkan oleh para leluhur kerajaan Aceh. Tgk Chik Di Reubee berasal dari keluarga yang memiliki silsilah mulia, yang dapat dilacak kembali hingga ke masa kejayaan Kesultanan Aceh, dan memiliki hubungan darah serta kekerabatan dengan keluarga besar Sultan Iskandar Muda dan para ulama pembesar yang pernah menjadi penasihat kerajaan pada masa itu.
Diketahui, para leluhur Tgk Chik Di Reubee adalah kalangan ulama dan cendekiawan yang sangat dihormati di lingkungan kerajaan. Mereka adalah orang-orang yang mendapat perlindungan, kepercayaan, dan penghargaan tinggi dari Sultan Iskandar Muda karena keilmuan dan ketulusan mereka dalam membimbing umat. Ketika kekuasaan kerajaan mulai berubah dan bergeser, keluarga ini tetap setia memegang amanah sebagai pemimpin agama dan pendidik, meneruskan tradisi mulia yang dulunya didukung dan dipelihara oleh Sultan Iskandar Muda.
Tgk Chik Di Reubee sendiri mewarisi sifat-sifat mulia yang juga dimiliki oleh Sultan Iskandar Muda: teguh memegang agama, berani membela kebenaran, mencintai ilmu pengetahuan, dan sangat peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Beliau mendirikan dayah dan Masjid Jamik di Reubee yang hingga kini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan ilmu pengetahuan, sama seperti yang pernah dilakukan Sultan Iskandar Muda yang membangun banyak pusat ilmu pengetahuan di seluruh Aceh.
Hubungan erat ini juga terbukti dari jejak tradisi dan adat yang berlaku di wilayah Reubee dan sekitarnya. Bahkan bukti Sejarah yaitu ada Makam Putroe Tsani di Gampong Reuntoh Reubee, yang masih menjadi Saksi bisu pada masa sekarang ini. Putroe Tsani itu adalah istri Sultan Iskandar Muda dan juga merupakan Anak Kandung dari Tgk Chik di Reubee. Kehidupan masyarakat Reubee masih sangat kental dengan corak pemikiran dan tradisi yang berkembang pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda.
Bahkan, para keturunan dan pengikut Tgk Chik Di Reubee yang kini melanjutkan tugas mulia di Reubee, termasuk para pengurus masjid dan Tokoh agama, masih menyimpan cerita-cerita lisan dan bukti sejarah tentang kaitan erat antara pendiri dayah mereka dengan keluarga besar raja-raja Aceh Darussalam, khususnya Sultan Iskandar Muda.
📜 WARISAN YANG TERJAGA HINGGA KINI
Hingga masa kini, jejak sejarah dan hubungan istimewa ini masih terus dijaga dan dihormati oleh masyarakat. Di Kecamatan Delima dan Kabupaten Pidie, bahkan Aceh secara umum, keberadaan Masjid Jamik Tgk Chik Di Reubee bukan hanya menjadi tempat ibadah, melainkan simbol hidup bahwa nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sultan Iskandar Muda dan para ulama besar seperti Tgk Chik Di Reubee masih terus hidup dalam kehidupan masyarakat.
Almahdi, SHI, Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Grong-grong saat ini yang juga menjadi bagian dari pelestari tradisi dan sejarah di wilayah Reubee dan Pidie, menyampaikan bahwa mengenal sejarah ini adalah kewajiban bagi setiap generasi.
“Sejarah Sultan Iskandar Muda dan hubungan beliau serta keturunannya dengan Tgk Chik Di Reubee adalah bukti bahwa kemuliaan Aceh dibangun di atas kekuatan iman, ilmu, dan persaudaraan. Tgk Chik Di Reubee adalah bukti nyata bagaimana warisan kebesaran masa lalu tidak hilang, melainkan diteruskan melalui jalur pendidikan agama dan pembinaan umat. Kita sangat bangga memiliki akar sejarah yang kuat dan mulia seperti ini,” ungkap Almahdi, SHI, yang merupakan Putra asli Reubee.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebesaran suatu bangsa tidak hanya diukur dari kejayaan di masa lalu, melainkan dari kemampuan keturunannya untuk menjaga nilai-nilai luhur tersebut, mengamalkannya, dan mewariskannya kepada anak cucu, demi terciptanya masyarakat yang beriman, berilmu, dan bermartabat, seperti yang senantiasa diimpikan oleh Sultan Iskandar Muda dan Tgk Chik Di Reubee.
Penulis : Aldy

