SIGLI – Mediamataelangindonesia.com.
Di tengah keseharian masyarakat Aceh, terdapat satu tradisi budaya yang tak pernah lekang oleh waktu, senantiasa dijaga kelestariannya, dan dilaksanakan dengan penuh kehangatan serta rasa hormat. Tradisi itu bernama Peusijuek, sebuah upacara adat dan keagamaan yang selalu melibatkan peran sentral para Abu, Tokoh Agama, dan Tengku sebagai pemimpin acara sekaligus pembawa berkah.
Peusijuek bukan sekadar seremonial biasa. Bagi masyarakat Aceh, tradisi ini adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT, doa bersama agar segala sesuatu yang baru dimiliki atau dimanfaatkan senantiasa membawa keberkahan, keselamatan, dan dijauhkan dari marabahaya. Tradisi ini umumnya dilaksanakan untuk berbagai keperluan, mulai dari kendaraan bermotor, rumah tempat tinggal, ruko atau toko usaha, hingga peralatan kerja dan fasilitas umum.
🕌 PERAN TOKOH AGAMA DALAM PEUSIJUEK
Inti dari pelaksanaan Peusijuek adalah kehadiran para ulama, Tengku, atau Abu (sebutan hormat bagi tokoh agama dan orang tua yang alim). Masyarakat meyakini bahwa doa yang dipanjatkan oleh mereka adalah doa yang mustajab dan penuh berkah.
Prosesi dimulai dengan mengundang para Tengku dan tokoh masyarakat ke lokasi. Di hadapan mereka disiapkan peralatan adat berupa nasi kunyit yang berwarna kuning keemasan – melambangkan kemuliaan dan kekayaan rezeki – yang disertai dengan lauk pauk sederhana, kelapa parut, serta kapur dan sirih.
Dalam setiap prosesi, Abu dan Tengku memimpin pembacaan ayat suci Al-Quran, doa selamatan, dan permohonan kepada Allah agar barang atau bangunan tersebut menjadi sarana yang bermanfaat, halal, dan menjadi ladang rezeki yang berkah bagi pemiliknya. Mereka juga yang akan menempelkan nasi kunyit tersebut pada benda yang disucikan sebagai tanda pemberian berkah.
“Peusijuek itu intinya adalah memohon perlindungan Allah. Kami mengundang para Tengku karena mereka adalah pewaris ilmu, orang yang dicintai Allah, dan doanya diharapkan sampai ke langit. Bukan sekadar adat, tapi ini adalah perpaduan indah antara iman dan budaya,” ungkap salah satu tokoh adat di Pidie.
🚗 PEUSIJUEK KENDARAAN : DO’A KESELAMATAN DI JALAN RAYA
Salah satu yang paling sering dilakukan adalah Peusijuek kendaraan, baik itu mobil, sepeda motor, maupun alat transportasi lainnya. Bagi masyarakat Aceh, kendaraan bukan hanya alat angkut, melainkan sarana yang membawa nyawa dan harta. Ketika seseorang memiliki kendaraan baru atau kendaraan yang sudah lama dipakai namun ingin dikukuhkan kembali keberkahannya, Peusijuek adalah langkah wajib yang dilakukan.
Para Tengku akan memimpin doa memohon agar setiap perjalanan selalu dalam lindungan Allah, dijauhkan dari kecelakaan, kerusakan, atau gangguan apapun. Nasi kunyit ditempelkan di bagian depan, kaca, dan setir kendaraan sebagai tanda bahwa kendaraan tersebut telah disucikan dan diiringi do’a keselamatan.
🏠 PEUSIJUEK RUMAH : MENCIPTAKAN KELUARGA SAKINAH
Ketika rumah baru selesai dibangun atau akan ditempati, tradisi Peusijuek menjadi momen sakral. Rumah dianggap sebagai tempat berlindung, tempat berkumpul keluarga, dan tempat beribadah. Prosesi ini bertujuan agar rumah tersebut menjadi tempat yang mendatangkan rahmat, kedamaian, serta dijauhkan dari hal-hal buruk atau perselisihan antar penghuninya.
Abu dan Tokoh Agama akan berkeliling di setiap ruangan sambil membacakan do’a dan menaburkan beras kunyit serta air yang telah didoakan. Doa yang dipanjatkan berisi permohonan agar rumah itu penuh dengan keberkahan, penghuninya diberikan kesehatan, rezeki yang lancar, dan tumbuh menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
🛒 PEUSIJUEK TOKO DAN USAHA : DO’A KELANCARAN REZEKI
Bagi para pedagang dan pengusaha di Aceh, Peusijuek toko, ruko, atau tempat usaha memiliki makna yang sangat dalam. Ini adalah wujud keyakinan bahwa segala rezeki datangnya dari Allah, dan usaha manusia hanyalah sarana.
Dalam acara ini, para Tengku dan Abu berdoa agar usaha yang dijalankan menjadi berkah, laris manis, tidak ada penipuan, dijauhkan dari kerugian, dan keuntungannya dapat bermanfaat bagi keluarga maupun orang banyak. Nasi kunyit ditempelkan di pintu masuk, meja kasir, atau barang dagangan sebagai simbol pembuka pintu rezeki yang luas dan halal.
“Kami tidak hanya minta laris, tapi kami minta berkah. Untung boleh sedikit, asalkan halal dan berkah, itu yang utama. Itulah yang kami harapkan melalui do’a para Tengku saat Peusijuek,” ujar seorang pemilik toko di Grong-grong.
🤝 PELESTARIAN NILAI AGAMA DAN BUDAYA
Tradisi Peusijuek di Aceh sejatinya adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai Islam menyatu sempurna dengan budaya lokal. Peran Abu, Tokoh Agama, dan Tengku menjadi kunci utama agar tradisi ini tetap berjalan di jalur syariat, tidak menyimpang, dan bebas dari hal-hal yang berbau khurafat atau takhayul.
Pemerintah dan masyarakat adat terus mendorong agar tradisi ini tetap dijaga, karena selain mempererat tali silaturahmi antarwarga, Peusijuek juga menjadi sarana pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini milik Allah, dan manusia wajib memohon perlindungan serta keberkahan-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Bagi masyarakat Aceh, Peusijuek bukan sekadar upacara, melainkan cerminan hati yang selalu bersandar kepada Tuhan, dan penghormatan tinggi kepada para ulama serta orang-orang saleh yang menjadi penunjuk jalan kebaikan. Tradisi ini akan terus hidup, terus diwariskan, dan tetap menjadi identitas kebanggaan masyarakat Aceh di mana pun berada.
Salah satu Tokoh Agama yang melakukan Peusijuek yaitu Tgk Almahdi, SHI. Beliau merupakan Penyuluh Agama di KUA Kecamatan Grong-grong yang tinggalnya di Reubee, mengatakan bahwa “Tradisi Peusijuek ini semoga diteruskan oleh Anak Cucu kita kedepannya, karena tujuan melakukan Tradisi Peusijuek ini hanyalah mengharap keberkahan dari Allah SWT”. Ujarnya..
Penulis : Aldy

