
Oleh Teuku Saifuddin Alba
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sejatinya adalah wajah rakyat di dalam gedung parlemen. Di atas kertas, mereka disebut wakil rakyat, orang-orang yang dipilih dengan penuh harapan agar mampu menyuarakan kepentingan masyarakat kecil, mengawal aspirasi, serta memperjuangkan kesejahteraan bangsa. Namun, realita seringkali tak seindah harapan.
Saat musim pemilu tiba, rakyat seakan menjadi raja. Senyum manis, janji muluk, bahkan bantuan sesaat digelontorkan demi mengantongi suara. Jalan-jalan kampung yang selama ini sunyi, tiba-tiba ramai dikunjungi. Rumah-rumah sederhana yang dulu tak pernah disinggahi, kini didatangi dengan ramah. Rakyat diajak percaya, seolah masa depan akan berubah lebih baik bila mereka diberi mandat.
Namun, setelah kursi empuk parlemen berhasil digenggam, semua itu perlahan memudar. Pintu rumah rakyat kembali sepi, jalanan desa tetap berlubang, harga kebutuhan pokok tetap mencekik, dan nasib petani serta nelayan tak kunjung membaik. Aspirasi yang dulu mereka dengar dengan penuh perhatian, kini seperti tak terdengar lagi gaungnya.
Rakyat pun merasa ditinggalkan. Yang dibutuhkan hanyalah suara, bukan jiwa. Seolah DPR bukan lagi Dewan Perwakilan Rakyat, melainkan Dewan Penjaga Kepentingan Diri. Betapa ironis ketika suara-suara lantang yang seharusnya mewakili penderitaan rakyat, justru tenggelam dalam hiruk-pikuk politik kepentingan.
Pertanyaan sederhana muncul di hati masyarakat: “Di mana wakil kami saat kami butuh pembelaan? Di mana mereka ketika kami terhimpit harga beras, sulit mencari pekerjaan, dan harus berjuang demi sesuap nasi?”
Gedung parlemen yang megah dengan tiang-tiang kokoh, kini terasa begitu jauh dari rakyat jelata. Gedung itu berdiri anggun di pusat ibu kota, namun hampa dari jeritan nurani rakyat di pelosok desa. Yang dulu disambut dengan jargon suara rakyat adalah suara Tuhan, kini justru membiarkan rakyat terpuruk dalam sunyi.
Harapan rakyat seakan terkikis. Mereka hanya bisa menatap perwakilannya lewat layar kaca, bersuara lantang membicarakan hal-hal besar, tapi lupa pada hal-hal kecil yang justru menjadi denyut nadi kehidupan rakyat: harga pupuk yang melambung, jalan tani yang tak tersentuh, anak-anak miskin yang kesulitan sekolah, dan rumah-rumah reyot yang tak kunjung tersentuh bantuan.
Rakyat butuh perwakilan yang benar-benar peduli, bukan sekadar pandai berkata-kata. Rakyat butuh kehadiran nyata, bukan sekadar senyum saat kampanye. Kursi parlemen seharusnya menjadi amanah suci, bukan sekadar jabatan penuh prestise.
DPR harus kembali merenung,,mereka berdiri di sana bukan karena hebatnya mereka, melainkan karena rakyat percaya. Dan bila kepercayaan itu terus dikhianati, maka yang tersisa hanyalah luka, kekecewaan, dan doa rakyat yang terdzalimi.