Mediamataelangindonesia.com-Wilayah Pulau Weh
Sabang, 25 Juni 2025 – Selama 360 hari lamanya, pasangan suami istri asal Sumatera Utara, ADI FITRIA dan DINA NOVIANDARI, menjelajahi belasan negara di Asia menggunakan mobil pribadi. Seakan menjadi kisah nyata versi modern “Bang Toyib yang tak pulang-pulang”, pasangan ini akhirnya menuntaskan ekspedisi “From Zero To Zero” panjang itu dengan penuh haru di Titik Nol Kilometer Indonesia, Pulau Weh, Sabang, Provinsi Aceh.
Berangkat dengan semangat petualangan dan kecintaan terhadap budaya serta alam, perjalanan ini bukan hanya sekadar lintas negara, tetapi juga lintas cerita, rasa, dan pelajaran hidup. Dalam satu tahun penuh, mereka menyusuri jalanan Asia, dari padatnya kota metropolitan hingga pelosok yang jarang dijamah wisatawan, sambil membawa misi mengenalkan dan menyerap nilai-nilai budaya lintas bangsa.
Tepat pada Rabu sore, pukul 15.45 WIB, Adi dan Dina tiba di Sabang dengan Kapal Aceh Hebat, menyeberang dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh ke Balohan, Sabang. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju titik paling barat Indonesia, tempat sakral bernama KM 0.
Setibanya di sana, mereka disambut hangat oleh seorang anggota Kodim 0112/Sabang, yang akrab disapa Bang Ali, serta warga sekitar yang telah mengetahui kisah luar biasa keduanya.
Dalam momen penuh haru itu, ADI dan DINA langsung bersujud syukur. Bukan hanya karena telah selamat dari ribuan kilometer perjalanan, tapi juga karena kembali ke tanah air dengan hati penuh rasa cinta dan bangga.
Tak hanya itu, sebagai bentuk rasa syukur, pasangan ini juga menggelar syukuran dan santunan untuk anak yatim dari salah satu pondok pesantren di Sabang. Acara sederhana namun bermakna itu diisi dengan doa bersama, makan bersama, dan sapaan hangat penuh haru dari anak-anak yang mereka santuni.
Dalam wawancara eksklusif bersama media lokal, Mata Elang Indonesia Wilayah Sabang, ADI dan DINA membagikan kesan selama satu tahun penuh mengelilingi Asia. Mereka bercerita tentang keindahan alam Nusantara, kaya ragam budaya dan kuliner, hingga keramahan masyarakat dari setiap daerah yang mereka lewati. “Setiap tempat memberi pelajaran, tapi Indonesia,terutama Sabang,selalu terasa seperti rumah,” ujar Dina.
Beberapa warga Sabang bahkan mengenali mereka dan menyapa akrab. “Sabang bukan hanya titik akhir bagi kami, tapi juga titik awal untuk mencintai Indonesia lebih dalam,” tambah Adi, tersenyum.
Perjalanan ini bukan hanya tentang menaklukkan jarak dan batas negara, tetapi juga menaklukkan diri sendiri: rasa lelah, rindu rumah, dan ujian selama di negeri orang. Kini, pasangan ini kembali dengan kisah yang akan dikenang, bukan hanya oleh mereka, tapi oleh siapa pun yang percaya bahwa perjalanan sejati adalah tentang makna, syukur, dan pulang dengan hati yang lebih kaya.
Demikian Laporan Pantauan Media Mata Elang Indonesia Com Wilayah Sabang (Kabiro)Eric Karno
