Mataelangindonesia.com – Palembang Sumsel, Masjid Nurul Hijrah Jalan C. Simanjuntak Rt. 09/ Rw. 04 kelurahan Pahlawan kecamatan Kemuning kota Palembang lakukan peringatan Isra Mi’raj dengan penceramah Ustadz Lettu Inf. Samsul Rizal (Ustadz Sam), Minggu (11-02-2024)
Qori’ M. Hakim melantunkan Al Qur’an surat Al-Isra ayat 1-5 yang terjemahannya, “1) Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
2) Dan kami berikan kepada Musa, Kitab (Taurat) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil (pelindung) selain Aku.
3) (Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
4) Dan kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.
5) Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.”
Ustadz Sam Da’i Walikota Palembang dan Jaringan Santri Indonesia (JSI), dalam ceramahnya menuturkan,
“hikmah dari perjalanan Isra mi’raj Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ada lima, yakni pertama Takdir atau ketetapan dari Allah subhanallahu wata’ala yang menceritakan tentang dua perjalanan Nabi Muhammad SAW sampai bertemu Allah SWT. Perjalanan tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam kurun waktu 1 malam saja dan melalui perjalanan Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW, Allah SWT menurunkan perintah sholat lima waktu kepada umat muslim. Peristiwa itu dikisahkan oleh Allah SWT lewat firmannya dalam beberapa surat di dalam Al-Qur’an, yakni surat Al-Isra dan Surat Al-Najm,”
Yang kedua hikmah Isra Mi’raj adalah bersihkan hati dari hasad, hasut dan dengki, bahwa ketika Nabi saw. melakukan Isra’, maka pagi harinya nabi SAW menceritakannya kepada segolongan orang-orang Quraisy, akan tetapi mereka memperolok-olokkannya. Lalu mereka meminta bukti dari nabi SAW yang membenarkan ceritanya itu, maka sebagian yang percaya bertambah imannya dan yang tidak percaya tentang Isra Mi’raj menjadi kufur.
Yang ketiga, Berjama’ah jangan sendiri-sendiri yang pertama membenarkan dan percaya perjalanan Isra Mi’raj adalah adalah kesadaran untuk percaya, atau iman. Orang pertama yang mempercayai nabi Muhammad melakukan Isra dan Mi’raj adalah Abu Bakar. Kesadaran beriman pada diri Abu Bakar telah mencapai maksimal, sebagaimana dapat diamati dalam sikapnya terhadap peristiwa Nabi tersebut. Setiap kali Nabi Muhammad SAW menyampaikan berita tentang Isra’-Mi’raj, Abu Bakar lah pertama yang percaya kemudian diikuti para sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.
Keempat, yakni penyandingan antara Masjidil Haram Makkah dan Masjid al-Aqsa Palestina dalam satu ayat di atas bukan sekadar untuk menggambarkan perjalanan Isra yang nabi alami, tetapi lebih dari itu untuk menunjukkan bahwa kedua masjid tersebut adalah satu-kesatuan tak terpisahkan. Ditolak satu mengharus ditolak semua,
“Tidak boleh seorang muslim membeda-bedakan antara keduanya, sebab konskuensinya adalah menolak ayat Alquran. Sikap menolak ayat Alquran sekalipun hanya satu ayat otomatis menolak Alquran. Ini cara Allah menitipkan Masjid al-Aqsha sebagai tanggung jawab umat Islam yakni menjaga Palestina sebagai tempat lahirnya para Nabi.
Kelima, tutup Ustadz Sam hikmah yang terkandung dalam perjalanan Isra Mi’raj adalah mengajarkan kita pentingnya sholat karena langsung dari Allah SWT sebagai tiang kita agama Islam yang akan menjadi pertanggungjawaban akhirat.
“Sholat adalah panggilan Allah, olehnya sebagai umat muslim wajib hukumnya melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Sholat sebagai bentuk ketaqwaan umat kepada Allah, karena yang memberi nikmat kehidupan dimuka bumi adalah kuasa sang pencipta,” ungkapnya.
Kita sadari bersama, bahwasanya harta kekayaan yang berlimpah, jabatan dan kedudukan yang dimiliki didunia tidak akan menemani di liang lahat nanti. Dimana kematian tak diketahui kapan menghampiri kita melainkan rahasia sang pencipta.
“Setelah meninggal, kalau bukan amal ibadah yang kita perbuat, dunia yang fana ini pasti akan kita tinggalkan. Mari bersama, renungkan bersama disaat kita meninggal nanti, ibadah sholat lah yang pertama-tama dihisab dari diri seorang hamba, jika Sholat ditunaikan dengan baik, akan baiklah seluruh amalannya. Namun jika Shalat tidak ditegakkan secara baik, akan jelek pula seluruh amalnya. Maka jadikanlah Shalat itu sebagai kebutuhan batin yang harus dipenuhi juga seperti kebutuhan jasmani,” tegas ustadz Sam. (Adipatih)
Editor : Aslam
