IMG-20260120-WA0397

PIDIE JAYA  : MataElang Indonesia.com— Di tengah keputusasaan akibat banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada akhir November 2025, muncul cerita ketangguhan yang justru datang dari seorang penyandang disabilitas. Zulfadly, seorang pemuda Tuli alumni SLB Pidie Jaya, menjadi simbol harapan bagi warga terdampak, terutama sesama penyandang disabilitas, lansia, dan janda miskin.

Bencana yang terjadi pada 25-26 November 2025 itu menyapu sejumlah gampong, termasuk Gampong Dayah Timu, tempat Zulfadly tinggal. Rumahnya sendiri tidak luput dari terjangan lumpur tebal yang menimbun puluhan rumah warga. Namun, justru di saat dirinya juga menjadi korban, Zulfadly memilih untuk bangkit dan mengulurkan tangan.

Dia terlibat aktif sebagai relawan di organisasi CYDC (Children Youth & Disabilities for Change). Fokusnya jelas: memastikan kelompok rentan—warga disabilitas, lansia, dan janda miskin—yang terdampak bencana tetap terjamin kesehariannya. Zulfadly menyadari bahwa dalam situasi darurat, kelompok ini seringkali terabaikan, baik dalam pendistribusian bantuan maupun akses terhadap informasi.

Selain pendampingan, pria muda ini juga turun langsung mengatasi masalah mendasar pascabencana: ketersediaan air bersih. Bersama relawan lainnya, Zulfadly aktif memfasilitasi pengadaan dan distribusi air bersih ke beberapa gampong di tiga kecamatan terdampak parah, yaitu Meureudu, Meurah Dua, dan Ulim. Upaya ini menjadi penopang hidup bagi warga yang sumber airnya tercemar lumpur atau rusak.

Aktivitasnya sebagai relawan dilakukan dengan caranya sendiri. Sebagai seorang Tuli, komunikasi dengan warga dan sesama relawan dijembatani melalui alat bantu, tulisan, isyarat, serta dukungan dari rekan yang memahami. Ketabahan dan empatinya justru menjadi bahasa universal yang mudah diterima oleh semua kalangan, termasuk korban yang sedang berduka.

“Zulfadly adalah contoh nyata bahwa disabilitas bukan halangan untuk berkontribusi besar bagi masyarakat. Justru, pengalamannya sebagai penyandang disabilitas dan korban bencana membuatnya sangat peka terhadap kebutuhan yang sering tidak terlihat,” ujar seorang koordinator CYDC.

Kisah Zulfadly bukan hanya tentang relawan biasa. Ini adalah kisah tentang ketangguhan ganda: bangkit dari keterbatasan fisik dan bangkit dari musibah yang menimpa rumahnya sendiri. Dia tidak hanya memulihkan diri, tetapi juga memulihkan harapan warga di sekitarnya.

Dedikasinya menyampaikan pesan kuat: inklusivitas dalam penanganan bencana adalah keharusan. Setiap orang, terlepas dari kondisinya, memiliki kemampuan dan hak untuk menjadi bagian dari solusi, bahkan di saat-saat tersulit sekalipun. Zulfadly, dengan segala keterbatasan yang dihadapinya, justru menjadi kekuatan perubahan di tanah lumpur Pidie Jaya.
(CM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *