IMG-20260616-WA0035

PIDIE JAYA mediamataelangindonesra.com – Di usianya yang tak lagi muda, semangat Abu Tanjong Bungong, ulama kharismatik asal Ulee Gle, Kabupaten Pidie Jaya, tak pernah padam. Rabu malam (1 Muharram 1448 H), beliau memenuhi undangan untuk memberikan tausiyah dalam rangka Tahun Baru Islam di Masjid Jamik Tgk Japakeh, Kuta Simpang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya.

Meski langkahnya tertatih dan suaranya bergetar oleh usia, Abu Tanjong Bungong tetap duduk bersila di mimbar dengan mata berbinar. Ratusan jamaah dari berbagai desa sekitar tampak khusyuk, ada yang duduk di lantai masjid, di serambi.

Hijrah Bukan Sekedar Pindah Tempat

Dalam tausiyahnya yang mengharukan, Abu Tanjong Bungong membedah makna hijrah secara mendalam. Beliau menyatakan bahwa hijrah tidaklah semata-mata berpindah dari satu negeri ke negeri lain, melainkan hijrah dari perilaku buruk menuju akhlak mulia.

“Hijrah sejati, kata beliau, adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah menuju apa yang diridhai-Nya. Hijrah dari dengki, hasad, sombong, dan dari maksiat kepada taat,” kutip Yusneidi, salah satu pengurus BKM (Badan Kemakmuran Masjid) Masjid Jamik Tgk Japakeh, saat dihubungi melalui WhatsApp kepada Cek Mad dari media ini.

Abu Tanjong Bungong juga mengingatkan bahwa Tahun Baru Islam 1 Muharram seharusnya menjadi momen refleksi total. Bukan sekadar pergantian angka di kalender, tetapi pergantian jiwa. Beliau mengajak jamaah untuk bermuhasabah: sudah sejauh mana kita meninggalkan kebiasaan lama yang tidak bermanfaat?

**Ulama Kharismatik yang Tak Kenal Lelah**

Meski usianya telah senja, Abu Tanjong Bungong tak pernah menolak undangan dakwah, terutama dari masjid-masjid di pelosok. “Dalam kondisi fisik yang terbatas, beliau tetap bersemangat luar biasa. Beliau datang ditemani murinya. Tapi begitu memegang mikrofon, semangat mudanya muncul lagi,” kenang Yusneidi dengan mata berkaca-kaca.

Tausiyah yang berlangsung sekitar 45 menit itu ditutup dengan doa panjang yang membuat sebagian jamaah menangis haru. Doa untuk Pidie Jaya, untuk Aceh, dan untuk umat Islam agar diberikan kekuatan untuk terus berhijrah.

Selesai acara, jamaah berebut mencium tangan Abu Tanjong Bungong. Seorang jamaah yang juga Sekretaris BKM bernama Edi Mahmudi mengaku baru pertama kali mendengar langsung tausiyah ulama sepuh itu. “Saya nangis, Bang. Beliau mengingatkan tentang hijrah,” ujarnya.

Acara yang digagas oleh pengurus BKM Masjid Jamik Tgk Japakeh ini diharapkan menjadi tradisi tahunan. “Kami ingin generasi muda paham bahwa hijrah adalah napas hidup seorang Muslim, bukan sekadar seremoni setahun sekali,” pungkas Yusneidi.

(CM Cek Mad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *