PIDIE JAYA, Mata Elang Indonesian.com— Hampir dua bulan pasca banjir bandang melanda Kabupaten Pidie Jaya, dampak panjangnya masih terasa nyata di dunia pendidikan. Salah satu yang paling parah adalah kondisi SMK Tgk. Chik Di Pante Geulima di Kecamatan Meureudu, yang nyaris hancur total akibat terjangan air bah dan perubahan aliran alam.
Berdasarkan laporan langsung dari wakil kepala sekolah,Ir.hamdan hasballah, bangunan utama tempat belajar-mengajar roboh diterjang arus deras. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, di area sekolah kini muncul aliran sungai baru akibat pembelokan dan erosi masif dari banjir bandang 25-26 November 2025 lalu. Perubahan topografi dan lingkungan ini tidak hanya menghancurkan gedung, tetapi juga mengancam stabilitas tanah di sekitarnya.

“Segala fasilitas sekolah porak-poranda. Tidak ada lagi bangunan yang layak dipakai untuk aktivitas belajar. Yang tersisa hanya puing dan lumpur kering, sementara di tengah-tengah kompleks sekolah kini mengalir air dari sungai yang terbentuk pascabanjir,” ungkap bpk.hamdan hasballah saat dikonfirmasi Cek Mad dari media ini
Dengan kondisi tersebut, kegiatan dan proses belajar-mengajar di lokasi asli mustahil dilanjutkan. Setelah koordinasi intensif dengan pihak yayasan dan Dinas Pendidikan Aceh dlm hal ini cabdin pidie jaya dan pihak terkait, diputuskan bahwa seluruh siswa dan guru SMK Tgk. Chik Di Pante Geulima akan direlokasi sementara ke SMKN Saree di Aceh Besar. Pemindahan ini bersifat darurat untuk menyelamatkan tahun ajaran dan hak belajar ratusan siswa.
Proses relokasi telah mulai dipersiapkan, termasuk penyesuaian jadwal, penggunaan ruang bersama, dan penyiapan asrama atau tempat tinggal sementara bagi siswa yang berasal dari keluarga terdampak. Meski jarak antara Pidie Jaya dan Aceh Besar cukup jauh, langkah ini dianggap sebagai satu-satunya solusi paling tepat agar proses pendidikan bisa tetap berjalan dan tidak terhenti total.
l
“Kami menyadari ini tidak mudah bagi siswa maupun orang tua. Banyak dari mereka juga korban banjir yang kehilangan rumah. Namun, dengan dukungan semua pihak, kami berusaha memastikan bahwa masa depan pendidikan anak-anak tidak ikut terkubur bersama bangunan sekolah,” tambah Wakil Kepala Sekolah Ir. Hamdan hasballah dan diamini oleh pel.kepala sekolah bpk.ir.Razali adami,MP.
Bencana ini tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga trauma bagi warga sekolah. Banyak siswa kehilangan perlengkapan belajar, seragam, dan barang-barang pribadi yang tersimpan di sekolah. Pihak sekolah saat ini juga mendata ulang kebutuhan mendesak, termasuk bantuan alat tulis, buku, dan dukungan psikososial.
Sementara kegiatan belajar akan dipindah, upaya pemulihan dan asesmen kerusakan di lokasi asli terus dilakukan. Harapannya, setelah kondisi tanah dinilai stabil dan dana rekonstruksi tersedia, SMK Tgk. Chik Di Pante Geulima dapat dibangun kembali di tempat yang lebih aman.
Kejadian ini menjadi pengingat betapa rentannya infrastruktur pendidikan di daerah rawan bencana. Diperlukan perencanaan tata ruang dan konstruksi yang lebih tangguh, serta skenario darurat pendidikan yang terstruktur agar anak-anak Aceh tidak kehilangan hak belajarnya, meski diterpa musibah terberat sekalipun. (CM)
