JAKARTA – Sistem perkeretaapian di Indonesia dinilai masih menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari infrastruktur yang menua, keterbatasan investasi, hingga persoalan tata kelola. Hal tersebut diungkapkan oleh Rudolf Sianipar, seorang profesional di bidang infrastruktur AI dan cybersecurity yang juga mengaku sebagai pelanggan setia kereta api selama lebih dari 25 tahun.
Menurut Rudolf, persoalan perkeretaapian di Indonesia sebenarnya merupakan masalah klasik yang juga dialami banyak negara berkembang. Infrastruktur yang dibangun sejak puluhan tahun lalu, sebagian besar peninggalan masa kolonial, kini membutuhkan rehabilitasi besar-besaran agar mampu menjawab kebutuhan transportasi modern.
Infrastruktur Tua dan Jalur Terbatas
Rudolf menilai sebagian besar jalur kereta di Indonesia masih mengandalkan infrastruktur lama yang dibangun pada masa kolonial Belanda dan Jepang. Minimnya perawatan rutin menyebabkan banyak jalur membutuhkan perbaikan besar yang tentunya membutuhkan biaya tidak sedikit.
Pemerintah sendiri menargetkan pengembangan jaringan kereta api hingga mencapai sekitar 12.100 kilometer pada tahun 2030. Program ini mencakup reaktivasi jalur mati di Pulau Jawa serta pembangunan jalur baru di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua untuk memperkuat konektivitas logistik nasional.
Namun menurut Rudolf, tantangan utama tetap terletak pada pendanaan. Ia menilai manajemen industri perkeretaapian nasional harus lebih kreatif dalam mencari sumber pembiayaan, termasuk menggandeng investor swasta dalam dan luar negeri.
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan standar teknis yang sering berubah seiring pergantian manajemen. Hal tersebut menyebabkan pengadaan sarana dan prasarana tidak selalu mengacu pada peta jalan jangka panjang.
“Seringkali pengadaan dilakukan berdasarkan kebutuhan sesaat, bukan berdasarkan roadmap nasional atau standar negara yang sistem perkeretaapiannya sudah maju seperti Jepang, China, atau Eropa,” ujarnya.
Masalah lain adalah masih banyaknya jalur tunggal yang membatasi frekuensi perjalanan kereta. Kondisi ini kerap menimbulkan keterlambatan perjalanan karena kereta harus bergantian melintas di jalur yang sama.
Operasional Dinilai Belum Efisien
Dari sisi operasional, Rudolf menilai kereta api di Indonesia masih kalah bersaing dengan transportasi darat lainnya. Kecepatan perjalanan yang relatif rendah dan ketidakpastian waktu tempuh membuat sebagian masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi atau transportasi jalan raya.
Dalam sektor logistik, pengelolaan angkutan barang juga dinilai belum optimal. Proses bongkar muat dan waktu tunggu di terminal yang cukup lama membuat banyak pelaku usaha lebih memilih menggunakan truk.
Ia juga menyoroti keterbatasan jaringan kereta di luar Pulau Jawa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia dinilai belum memiliki sistem transportasi kereta yang mampu menghubungkan wilayah-wilayah besar secara efektif.
Persoalan Keuangan dan Investasi
Di sisi lain, industri kereta api juga menghadapi tantangan finansial. Proyek modernisasi dan pembangunan jalur baru membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian modal yang panjang.
Menurut Rudolf, kondisi tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia, masih lebih memprioritaskan pembangunan jalan raya dibandingkan kereta api.
Padahal, jika dikembangkan secara optimal, kereta api dapat menjadi solusi transportasi massal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Faktor Keselamatan Masih Jadi Sorotan
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian penting. Infrastruktur rel dan sistem persinyalan yang belum sepenuhnya modern masih berpotensi memicu kecelakaan, termasuk anjlokan kereta atau tabrakan di perlintasan sebidang.
Kepadatan penduduk di sepanjang jalur kereta juga meningkatkan risiko kecelakaan akibat banyaknya perlintasan liar yang tidak dilengkapi pengamanan.
Selain itu, faktor pemeliharaan sarana dan budaya keselamatan di lingkungan operasional dinilai perlu terus diperkuat.
Tantangan SDM dan Tata Kelola
Rudolf juga menyoroti keterbatasan tenaga kerja terampil di bidang perkeretaapian. Kurangnya insinyur dan teknisi yang terspesialisasi membuat proses modernisasi berjalan lebih lambat.
Menurutnya, sistem perekrutan dan pengembangan sumber daya manusia perlu lebih fokus pada kebutuhan teknis industri.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang transparan, terutama dalam proses pengadaan barang dan jasa agar terhindar dari praktik yang berpotensi merugikan perusahaan.
Kinerja Positif, Tapi Masih Tertinggal
Meski demikian, kinerja PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Pada semester pertama 2025, perusahaan mencatat laba bersih sekitar Rp1,2 triliun atau tumbuh sekitar 7,7 persen.
Pendapatan KAI pada periode yang sama mencapai Rp16,8 triliun, sementara jumlah pelanggan yang dilayani KAI Group sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai lebih dari 413 juta orang. Angkutan barang juga meningkat hingga sekitar 63,6 juta ton.
Namun Rudolf menilai capaian tersebut masih tertinggal dibandingkan beberapa negara lain seperti Indian Railways Finance Corporation dan Indian Railway Catering and Tourism Corporation di India yang mencatat pertumbuhan profit lebih tinggi.
Ia menilai perbedaan tersebut terjadi karena India lebih fokus pada peningkatan kapasitas jaringan rel baru, sementara Indonesia lebih menitikberatkan pada modernisasi layanan.
Pentingnya Inovasi dan Diversifikasi Bisnis
Ke depan, Rudolf menilai industri kereta api perlu melakukan inovasi lebih agresif, baik dari sisi teknologi maupun model bisnis.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain digitalisasi operasional menggunakan teknologi kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), dan sistem keamanan siber untuk meningkatkan efisiensi serta keselamatan.
Selain itu, pengembangan kawasan komersial di stasiun seperti pusat perbelanjaan, hotel, atau apartemen juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi perusahaan.
“Stasiun kereta seharusnya tidak hanya menjadi tempat transit, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi yang mampu menghasilkan nilai tambah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa integrasi kereta api dengan moda transportasi lain juga penting untuk meningkatkan kenyamanan penumpang dan memperluas penggunaan transportasi massal di masyarakat.
Dengan perencanaan jangka panjang, tata kelola yang baik, serta inovasi berkelanjutan, Rudolf optimistis sistem perkeretaapian Indonesia dapat berkembang menjadi tulang punggung transportasi nasional di masa depan.
Jakarta, 14 Maret 2026
Rudolf Sianipar
Profesional AI Infrastruktur, Cybersecurity, dan Jurnalis
